Friendship or friendsh*t? (cerpen)



“Boleh ada mantan pacar, tapi tidak ada mantan teman. Meskipun kini jalan kita sudah berbeda, tapi namamu tetap terukir sebagai temanku. Forever friends”

                Dua pasang mata itu kini beradu. Satu…dua..tiga, yak terhitung sudah 5 menit tetap dalam keadaan seperti itu. Sunyi, senyap, tanpa sepatah katapun tercipta di dalamnya. Hembusan nafas berat dari salah satu tokoh utama akhirnya memecah kesunyian yang sempat terjadi.

“Ehem…eh lo mau kemana Ri? Udah lama nih gak liat hehehe.”

Kaku. Rasanya bibir ini sulit berucap walaupun hanya untuk beberapa patah kalimat. Canggung. Itu yang aku rasakan. Seperti kenal tapi tak kenal. Ingin menghindar tapi sang objek ada tepat di depan mata. Tuhan, kuatkan aku. Aku tak mau semuanya bertambah runyam.

“Eh, Halo Nis, mau liat-liat aksesoris aja nih. Duluan ya” Sang objek pun pergi. Tanpa meninggalkan jejak kalimat lebih banyak lagi. Dengan seutas senyum yang menurutku maaf, agak terpaksa. Ia pun menghilang di balik koridor itu. Kurasa ia menuju sebuah toko aksesoris yang lumayan komplit di mall ini.

****
                Aku menghempaskan diriku di atas kasur kesayanganku. Tatapanku menatap lurus pada langit-langit kamarku. Tapi itu hanya sebuah kamuflase. Tubuhku memang sedang ada disini tapi pikiranku terbang melayang-layang. Masih kuingat pertemuan singkatku dengan Ria tadi siang. Yak, tadi siang sepulang sekolah aku memang sudah berencana untuk mampir ke salah satu toko kue kesayanganku. Niatnya hanya untuk membeli Tiramissu cake kesukaan abangku. Itung-itung sebagai hadiah atas kelulusannya kemarin. Hihi sekarang bang Alvin sudah sarjana loh. Tapi siapa sangka ternyata aku malah bertemu dengan Ria, Safira Riani Andita. Sahabat karibku. Dulu tepatnya. Oh My God. I miss that moment.
                 
Sungguh ironis memang. Sedih rasanya ketika kau ingat kalau sahabatmu sudah tidak ada disampingmu lagi. Memberimu semangat, berbagi canda tawa dan suka duka bersama. Bercerita tentang manisnya mimpi dan pahitnya kenyataan yang ada. Mengubah suka menjadi duka. Membuat warna dalam setiap hari-hari yang kita lalui. Sungguh, aku rindu. Rindu akan manisnya persahabatan kita.

I can’t say anything more. I only miss our togetherness.

***

                Semua bermula dengan ketidakjelasaan dan berakhir begitu saja. Kadang aku suka merasa tak rela jika ingat hal yang membuat kita menjadi renggang. Menjauh seperti ini. Konyol. Mungkin hal itu tepat untuk disandingkan dalam pemicu retaknya hubungan kita. 

Social networking. What do you think about it? Yang aku tau justru melalui jaringan sosial kita memperluas hubungan social kita kan? Menambah teman. Memperluas pergaulan kita. Membuat kita memiliki banyak link. Tapi ini apa? Kebalikannya bukan? Sungguh aku kecewa. Benar-benar kecewa. Jujur saja aku masih belum bisa terima dengan apa yang kau lakukan padaku saat itu.

Kemana..kemana..kemana.. Mana janji manismu saat itu? Masih Ingatkah kau akan ikrar persahabtan kita? Manusia memang mudah berjanji, tapi belum tentu sanggup untuk menepatinya. Atas dasar nama solidaritas kau hempaskan aku begitu saja, kau lupakan kisah persahabatan kita hanya dengan sekejap. Kamu. Kamu yang dulu pernah menobatkan diri sebagai sahabatku kini malah menjauhiku. Aku masih ingat loh isi smsmu dulu , “Apapun yang terjadi kita bakalan tetep sama-sama kok.” Manis banget gak sih? Kaya lollipop gitu kan? Jilat aja terus hihihi. Yap, kadang kalau aku lagi kesal aku memang suka membuat teori yang aneh-aneh. Hehe sebut saja ini teori lollipop.
***

                “Niniiiiiiis.” Terdengar suara lengkingan khas milik kakakku. Aku yang tadinya tengah terlelap akhirnya bangun dari tidurku. Huh, ganggu aja deh abang. Akupun segera berjalan menuju kamar kakakku.

                “Kenapa sih bang? Baru pulang juga udah rempong banget. Mana suara lo kaya toa lagi. Ga malu apa di denger tetangga?” Rentetku tanpa henti seperti senapan yang sedang melontarkan pelurunya.

                “Apa sih nis, dateng-dateng malah marah-marah kaya emak-emak yang lagi dapet. Nih GADIS pesenan lo. Tadikan lo nitip minta beliin.” Jelas kakakku panjang kali lebar . Hihihi aku senang melihat ekspresinya yang seperti itu.

                “Maaf abang gantengku sayang, aku lupa. Hehehe tuh di kulkas ada tiramisu kesukaan lo. Dimakan gih bang.” Kataku sambil memasang puppy eyes andalanku.]
 
                “TIRAMISSU? Thankyou so much adek kecilku sayang . I LOVE YOU!!!” kakakku pun segera pergi setelah sebelumnya mencubit pipiku. 

                Ah kakak kebiasaan. Sakit tauuu! Aku pun segera menggembungkan pipiku. Mau teriakpun percuma saja karena abangku pasti sudah asyik di meja makan. Menyantap tiramisu kesukaannya. Hah sudah deh tidak usah diambil pusing, lebih baik aku segera membaca majalah remaja favoritku ini.
***
                Kini aku sedang berada di ruang santai. Memposisikan diriku se-pewe mungkin. Kubuka lembar demi lembar majalah yang sudah aku koleksi sejak SMP ini. Deg, to the jleb banget nih bahasa gaya anak sekarangnya mah. Kenapa? Kenapa? Kenapaaaaa??? Dear God, why it is so match with my condition? Is this your answer for my pray every night? Aduh kok aku jadi sok inggris gini yah? Hihihi. Dari judulnya aja udah pas banget ya. “BERANINYA KEROYOKAN!” HAHAHA. Tuh kaaaan dari judulnya aja udah pas banget. Rubrik psikologi-Gadis28. Noted. 

                Kini rentetan kisah masa lalu itu terulang kembali. Berputar-putar layaknya sang cupid mencari mangsa untuk dilepaskan kepada siapakah panah asmara itu akan bersarang. Tragedi yang menurut aku sebenarnya teramat sangat membingungkan. Aneh. Dan bahkan jatuhnya tidak penting loh. Aku tak habis pikir kenapa ya masalah dunia maya dibawa-bawa ke dunia nyata? Padahal sebenarnya ini bukan masalah kita secara langsung loh. Ini hanya karena kamu membela teman kamu. Teman yang menurut kamu sudah lebih lama kamu kenal lebih lama dari aku. Aku tidak akan memberi tahu detail masalah kami. Karena bagaimanapun iya tetap sahabatku loh. Yah meskipun kalau kamu  masih menganggap kamu sahabt aku. HIHI tapi beneran kan kita emang ga pernah ada masalah apapun. Cuma kamunya aja yang tiba-tiba menjauh dari aku.

                Aduh, kok kenapa aku jadi gatel ya mau ngepost sesuatu? Dengan sigap kugerakkan jari jemariku membuka jejaring social kesayanganku. Yap twitter. Tanganku bergerak bebas menekan tombol sign in. Dan hap timeline twitter ku pun segera terbuka. Akupun menuliskan beberapa kata dan bermaksud untuk mengupdate sebuah status.

            “#Dearsomeone Mungkin aku memang salah. Aku minta maaf . Tapi asal kamu tau aku senang pernah mengenal kamu. Terus asah bakat kamu ya:)({}):*.”

TWEETS. Akhirnya tweetku barusan berhasil terupdate. Aku harap dia membacanya. Semoga kedepannya hubungan persahabatan kami segera membaik. Amin. Hihihi abisnya capek kan kalo dim-dieman terus. Ntar sariawan loh.

                Friendship or friendshit? Manakah yang kamu pilih? Itu terserah kamu loh kamu bebas meilih. Mau tetap jadi temanku atau jadi pengecut di belakangku. Yang siap menusuk dari belakang kapan saja. It’s your choice baby. Jadi ini pilihanmu mau dibawa kemana persahabatan kita. Akankan tetap menjadi friendshit ataukah kembali menjadi friendship?

***
                “Neng sendirian aja neng? Awas loh ngelamun kaya gitu nanti ayam tetangganya mati” Ledek Arya sembari memeletkan lidahnya kepadaku.

                “Apa sih lo ya? Bikin gue bête aja nih” Balasku sambil menoyor kepala manusia satu itu.

                Arya Dewanto. Si ganteng satu itulah yang kini mengisi hari-hariku tepatnya setelah kepergian Ria. Sosok pria tampan yang mampu membius kaum hawa yang melewatinya. Ini kata arya loh ya:p Kapten basket sekaligus murid berprestasi kebanggaan di sekolahku. Sudah deh ya kebanyakan mendeskripsikan tentang Arya bisa-bisa nanti hidungnya terbang loh.

                “Sahabat lo mana nih sahabat lo Sa? Nisrina Anisa Anggraini?” . Yak, cuma Arya saja yang enggan memanggilku dengan sebutan NInis , katanya sih dia lebih suka memanggilku Nisa.

                “Udah deh ya, gausah ngeribetin itu lagi deh. Gue udah biasa aja kok. Kan gue cewek strong. Ria bebas kok mau berteman dengan siapa aja. Udahlah gausah dibahas lagi lagian banyak kok yang sayang sama gue. Yang peduli sama gue.” Jawabku yang kurasa panjangnya hampir menyerupai pidato pak Beye saat pidato reshuffle kabinet kemarin.

                “Ciyee yang udah dewasa sekarang haha. Pinter banget deh ceramahnya si cantik yang satu ini. Okedeh aku padamu lah eneng. Cause life must go on.”

                “Makasih kakak Arya. You’re the best. Tapi gausah pake ngegombal gitu dong ya.” Kilahku sambil meliriknya tajam. Sementara si objek hanya bisa cekikikan sendiri mungkin iya menganggap hal ini lucu. Tapi ga apa apa deh. Karena Arya aku mendapatkan sebuah pelajaran baru hari ini.

Yap underlined it. Cause life must go on. With or without you. Faktanya sekarang hidupku bahagia kok. Aku bebas berteman dengan siapapun. Mungkin ini teguran tuhan kali ya karna dulu mungkin aku terlalu ketergantungan dengan sahabatku. Mungkin dulu persahabatan kami terkesan eksklusif sehingga orang lain pun enggan untuk turut serta bergabung bersama kami. 

Yap selalu ada hikmah dibalik setiap cerita. Aku tidak menyesal walaupun friendship kita bermetamorfosis menjadi sebuah friendshit. Tapi yakinlah kalo misalnya suatu saat nanti lo mau balik jadi sahabat gue, gue bakalan nerima lo kok Ri. Dengan catatan level kepercayaan gue gabakal 100% lagi kaya dulu. Cukup sekali aja aku kecewa.

Ini aku, ini hidupku. Mungkin banyak orang yang membenciku di luar sana. Tapi aku akan tetap tersenyum kok. Karena aku tau Haters sebenarnya adalah pengagum kita yang sesungguhnya. Berbahagialah orang-orang yang memiliki haters. Karena selama itulah pahala selalu mengalir untuk anda. Cheer up guys! Lakuin apapun yang menurut lo bener. Akhir kata. Wassalam. Masalah gue sama Arya lebih dari temen apa engga itu rahasia kita aja ya.

****    

“Eneeeeeeeeeeeeeeng……………..tungguin akang.” Kedua insan itu pun berlali di tengah lapangan basket. Tepatnya sang pria mengejar sang gadis yang lebih dahulu telah berlalu.  Berlari menerjang angin. Menebarkan kebahagiaan yang tengah mereka rasakan kepada orang sekelilingnya.

“Apaan sih lo ya, Norak lu! Udah buruan entar keburu hujan. Tadinya katanya mau traktir es krim kan?”

“Siap tuan putri ayo kita berangkat. Mulai ya kita lari dari sini sampe parkiran. Yang kalah harus beliin chocolate-strawberry blended buat yang menang. Yuk mulai 1...2..3…”

Dan wuuz Arya pun melaju secepat kilat. Terima kasih Tuhan telah mengirimkan untukku seorang malaikat tanpa sayap yang siap memberikan berjuta kebahagiaan dan semangat disaat moodku sedang turun. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mahkluk special spesies aneh yang siap mewarnai hari-hariku dengan semua tingkah konyolnya. Itulah Arya.

***

Tanpa sadar ada kedua mata yang mengawasi mereka sejak tadi. Ya, itulah Ria. Mungkin kini ia memang belum berani untuk mengakui kesalahannya kepada Ninis. Tapi ia berjanji suatu hari nanti ia akan membuat hubungan mereka kmbali seperti semula. Persis seperti apa yang telah iya katakan. Secara refleks bibirnya menyunggingkan senyum untuk sahabatnya-mantan orang yang dulu sangat dekat dengannya lebih tepatnya.

“Gue harap lo selalu bahagia Nis. Gue disini selalu ngedoain lo ko. Jujur gue juga kangen banget sama lo”

Sang alam mendengarkan nyanyian hati dari dua orang insan yang sedang melagukan senandung hatinya. Burung-burung beterbangan kesana kemari seolah hendak menyampaikan cerita masing-masing dari dua orang remaja yang kini sedang diterpa badai dalam persahabatan mereka. Kuatkah mereka menghadapi itu? Inilah proses kedewasaan. Semakin kau kuat menghadapi persoalan dalam hidupmu, maka Sang pencipta akan semakin sayang kepadamu.



*Tamat*


CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

Thankyou for visiting my blog. Let's connect & be a friend:D

Cheers,
Ifa

Back
to top