-->
Menu

your blog banner

your blog banner
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

My Life as Young Entrepreneur (Short story)

/ / 0 Comments
My Life as Young Entrepreneur (Short story)

Hello and happy Tuesday Night! Dan..selamat berlebaran haji juga peeps! Hore makan kambing!:)))
Sesuai sama caption pict di atas, gue mau berbagi something sama kalian. Well, menang kalah hal biasa kok, at least udah dicoba. So, here it is. Tulisan kali ini adalah tulisan yang gue kirim buat berpartisipasi di salah satu lomba. Sebut saja extravaganza. Sayang beribu sayang ternyata belom berjodoh buat jadi pemenang. Yaudah lah ya, hidup masih terus berlanjut. So..enjoy it! XD

Psssttt...ini sih passion terdalam juga, jadinya enjoy banget pas proses nulisnya. Cuma agak sedih pas proses editing karena mesti ngecut beberapa paragraf biar pas sama persyaratannya. FYI, 5 lembar itu ternyata dikit banget ya. Mungkin sih faktor jam terbang saya dan kurangnya latihan sehingga belum bisa menempatkan tulisan sesuai dengan persyaratan dan kualifikasi yang dibutuhkan.

Saya pernah membaca sebuah tulisan, katanya kalau kita mempunyai mimpi. alangkah baiknya jika dituliskan. Tara...dan inilah tulisan yang sebagian curcol, obsesi, dan mimpi-mimpi yang menjadi penyemangat saya. bukankah ini termasuk untain doa kepada Sang pencipta? :)
Overall, i love this one-called short story. happy reading!


****
My Life as Young Entrepreneur

Kenapa harus milih yang nggak pasti kalo ada yang pasti-pasti aja?

Kuno. Rasanya ingin aku jabarkan secara panjang lebar tentang pilihanku untuk menjadi seorang entrepreneur. Tapi aku bisa apa? Dengan usia yang baru menginjak angka dua puluh dua tahun, tiga bulan yang lalu, membuatku hanya bisa memendam kekesalanku di hadapan mereka, mereka yang lebih tua, yang katanya lebih hebat, yang katanya sudah khatam dengan asam garam kehidupan.

Yang katanya......

***

“Salah ya kalo gue males anter CV kesana kemari dan lebih memilih untuk memperjuangkan passion gue?” 

Siang itu panas, sepanas tekadku yang membara untuk membuktikan kepada keluarga besarku tentang mimpiku yang bukan hanya sekedar imajinasi belaka.

“Sama sekali enggak Re, justru dengan keadaan yang kayak gini harusnya sih jadi pecutan buat lo. Semakin lo diinjek, semakin tinggi juga keinginan lo buat survive dan membuktikan kalo lo bisa sama orang-orang yang terlanjur meremehkan lo.”

“Rasanya sakit banget Ta, bahkan sama keluarga lo sendiri. Can’t believe it.”

The moment, ketika lo diremehin sama orang-orang yang lo sayang, orang-orang terdekat lo.

“I know, tapi gue percaya lo pasti bisa. Siapa sih yang nggak kenal  Remiya  Karina kalo udah  fight sama passionnya?”

Your best friend know you more than you know yourself.

Thanks God!  Detik itu aku percaya, kalau bahagia itu sederhana. Bukan dengan hura-hura atau pesta pora. Nggak perlu banyak orang buat bikin kita bahagia, tapi cukup satu yang akan tetap bertahan, yang akan menjadi sandaran, dengan atau tanpa sebuah permintaan. Tania did it. Tania Viscania, partner in crimeku dari awal masuk kuliah hingga lulus di Manajemen UGM.

“Inget kan mimpi lo buat sekolah lagi? Buat mengasah kemampuan desain lo? Buat bikin clothing line lo sendiri?”

“Fight, work, face, and pray. You deserve to be success babe. Kita emang masih muda, tapi jangan remehkan kobaran semangat perjuangan kita.”

***

Perjalanan baru dimulai kala itu. Sebuah perjalanan yang perlahan mampu mengubah hidupku. Keluar masuk pasar, pergi dari pagi hingga petang, bahkan rasanya rumah hanya sebuah persinggahan di kala malam menjelang. Pergi kesana kemari, tanya sana-sini, mengorek informasi dari siapa saja, dari pemilik toko, tukang becak, tukang parkir, tukang siomay, hingga tukang gorengan. Katanya,  kalau kita berusaha dengan sekuat tenaga, maka  alam pun akan berkonspirasi untuk membantu mewujudkan mimpi-mimpi kita.

Nggak ada kesuksesan yang instan, semua butuh proses,  butuh perjungan,  juga pengorbanan.

“Mbak Remi, paketnya udah sampai. Barangnya ditaruh di tempat biasa ya.”

Mang Udjo, salah satu pekerjaku, menyadarkanku dari lamunanku 4 tahun yang lalu. Saat semuanya masih terasa bagai pungguk merindukan bulan, masih jauh dari jangkauan, masih berupa bayangan.

Semenjak clothing line milikku menjadi salah satu produk yang menjadi tren anak muda, nama Remiya Karina seakan-akan sudah menjadi konsumsi publik. Bahkan bukan sekali dua kali namaku dan clothing line yang aku miliki muncul di majalah remaja maupun koran ibukota.  Rasanya masih kayak mimpi yang terlalu indah buat menjadi nyata.

Sketching, designing, mix n match color, googling and browsing the latest style, sampai blusukan ke pasar dan mall-mall ibukota menjadi rutinitasku setiap harinya. Belum lagi melakukan controlling di bagian operasi, produksi. hingga marketing.

“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” Quote milik Andrea Hirata yang selalu diucapkan Tania di kala down menyergapku terbukti masih menjadi suplemen terbaikku hingga kini.

Kini jawaban atas doa-doa malam yang kami panjatkan terbukti sudah. Jika aku sukses nyemplung di dunia clothing line, Tania kini sibuk mengurus bisnisnya di ranah kuliner. Mojang Bandung yang satu itu memang pandai memanfaatkan peluang kota asalnya yang tidak pernah sepi, Paris Van Java. Bubblebee Cafe, sebuah coffee shop bertema vintage  yang berlokasi di Jalan Dipati Ukur No.15 yang tidak pernah sepi pengunjung terlebih saat weekend.

***
“Kami cuma nggak rela kalau kamu hidup terombang-ambing dalam ketidakpastian. Apa susahnya sih mengubur mimpi kamu demi sebuah hal yang pasti?”

Masih membekas dengan jelas di ingatanku ketika mama, papa, dan kakak-kakakku yang kebetulan semuanya memang PNS memarahiku habis-habisan karena keenggananku untuk melamar kerja baik ke instansi pemerintahan maupun ke perusahaan swasta. 

Bukan, bukannya aku terlalu malas dan hanya memikirkan untuk bersantai ria dengan memilih untuk berwiraswasta. Jauh dari itu, menurutku prospek kedepannya jauh lebih besar. Jika seorang pegawai negeri bisa mendapatkan gaji sebesar x per bulannya, maka aku harus bisa untuk mencapai omset yang lebih besar berkali-kali lipat dari x.

Justru menurutku jam kerja seseorang yang berwirausahalah yang nggak ada habisnya. Tak kenal waktu, tak kenal tempat, bahkan tak mengenal yang namanya weekend. Seorang enterpreneur dituntut untuk selalu kreatif, inovatif, dan mampu membaca peluang. Kalau nggak ya siap-siap aja dengan pelaku usaha baru yang lebih fresh dengan segudang ide dan produk barunya.

Time flies, people changes. Seiring berjalannya waktu semuanya terasa berubah. Bahkan kini keluargaku yang semula bersatu untuk menentangku kini berbalik untuk mendukungku. Aku percaya, semuanya yang diawali dengan niat baik pasti berakhir dengan kebaikan. Bermodal dengan 50% nekat dan 50% tekad.

“Mbak Remi diminum dulu tehnya, awas loh mbak jangan terlalu capek-capek, nanti sakit kan si mbok juga yang repot.”

“Iya mbokku sayang, ini Remi cuma periksa berkas perjanjian kerja bentar kok mbak, abis itu langsung tidur.”

“Nah gitu dong mbaknya kan si mbok jadi lega. Jangan lupa sholat dan bersyukur sama Gusti Yang Maha Kuasa.”

“Siap Komandan!” kataku sambil menirukan gaya hormat ala-ala prajurit kepada atasannya ketika diberi perintah. Mbok Minah, asisten rumah tanggaku itu memang nggak ada matinya untuk berkhotbah panjang lebar jika aku sedang lembur seperti sekarang. Cerewetnya persis seperti mamaku, bahkan rasanya aku seperti memiliki dua mama yang selalu ingin menjagaku.

***
Pancious Pancake, GI.  12.30

“Blueberry cheese cakenya satu dulu aja mas sama ice chocolatenya satu.” Hari ini aku ada janji untuk interview dengan reporter majalah kampus di salah satu universitas swasta ternama yang tertarik dengan bisnis yang aku jalankan saat ini.

Di dalam kamusku, lebih baik menunggu daripada ditunggu. Makanya, walaupun waktu janjian kami masih setengah jam lagi, aku lebih memilih untuk lebih dulu berada di lokasi sambil menikmati  tempat makan yang super comfy dan homy ini.

“Kak Remiya ya? Maaf ya kak aku telat. Perkenalkan kak, aku Nadiana Putri dari com-speak magz.” Seorang gadis muda yang jika kutaksir umurnya masih 18 tahun terlihat menghampiri mejaku dengan agak tergesa-gesa. Dari stylenya aku bisa melihat bahwa ia cukup peduli dengan fashion dan harus ku akui memiliki skill yang lumayan dalam menentukan outfit of the daynya. Mungkin bisa kupertimbangakan untuk ku rekrut menjadi asistenku beberapa tahun lagi.

 “Nggak papa kok, selow aja. Mending kamu pesen dulu aja” Kataku santai sambil mencairkan suasana. Sekilas ekspresinya cukup tegang, mungkin ia pernah mendapat sambutan yang tidak mengenakkan dari narasumber sebelumnya.

“Hehe, makasih ya kak. Aku kirain kakak tipe pengusaha sukses yang serius. Eh nggak taunya baik banget gini.” Kekehnya pelan sambil mengambil buku menu yang aku sodorkan.

“Boleh dong kak dishare suka dukanya dari awal merintis sampai sekarang.”

“Duh kamu bakalan capek deh kalau dengerin semuanya. Ibaratnya sih kayak dibacain dongeng sebelum tidur.”

“Kakak bisa aja deh bercandanya. Hehe seriusan nih kak.” Katanya lagi dengan mata berbinar, bolpoin yang sudah stand by di atas notebook mini pinknya, serta mimik serius yang terlihat dari raut wajahnya.

“Nanti kamu cek blog dan buku aku aja ya, semua lengkap kok disitu. Sekarang kita makan dulu aja, tuh pesenannya udah dateng. Habis makan kita lanjut lagi interviewnya.”

“Pantesan aja banyak fansnya. Udah cantik, baik , masih muda, pinter nulis, pengusaha sukses lagi. Ah kakak. Mau banget jadi kakak!” katanya terlalu berlebihan.

Enam bulan yang lalu aku ditawari oleh sebuah penerbit untuk menuliskan kisah hidupku ke dalam buku non fiksi. Sebuah buku yang ditulis dengan bahasa yang mudah dicerna dan ditujukan untuk memotivasi kaum muda  agar terus berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. My life as Young Enterpreneur, buku dengan tebal 200 halaman yang dilengkapi dengan ilustrasi menarik dan sengaja didesain full color, resmi dirilis dua minggu yang lalu dan mendapat sambutan yang sangat positif dari masyarakat. Sungguh di luar ekspektasiku. Sebuah perjalanan hidup, kumpulan mimpi, dan bukti kerja keras dari seorang Remiya Karina. 

I have a dream, and I fight for it.

Tak pernah terbersit dalam anganku untuk berpamer ria dengan apa yang aku miliki kini. Sungguh, bukan itu kawan. Aku hanya ingin berbagi dan melalui buku ini aku ingin mereka percaya, bahwa segalanya akan menjadi nyata jika kita berusaha sekuat tenaga.

Sebuah kalimat pendek milik Nad—nama panggilan dari Nadia, menutup interview kami sore ini. “Pada dasarnya semua berhak mendapatkan yang terbaik setelah melakukan yang terbaik. Kalau kakak bisa kenapa yang lain enggak?”



Bahagiamu, bahagiaku (#FF2in1)

/ / 0 Comments

Mengikat janji sehidup semati, mewujudkan angan yang terlanjur terpatri di hati. Sorak sorai serta tepuk tangan para hadirin malam itu menambah asupan gegap gempitaku. Malam itu tepat 25 tahun pernikahan kami, kawin perak, katanya. Kawan lama, keluarga, kerabat, relasi, serta tetangga turut serta memeriahkan hari jadi kita, kamu dan aku.

Masih ku ingat senyummu, garis wajahmu, harum tubuhmu, bahkan caramu berbicara. Semua masih sama, masih terlalu indah untuk dilupakan. Malam itu, kala perayaan telah usai, kau memanggilku dengan mesra dari sisi tempat tidur besar kita. Kau menuntunku ke balkon dan memangku gitar kesayanganmu.

“Kamu itu hadiah terindah buat aku, dulu, saat ini, dan untuk selamanya. Bahkan sampai aku kembali ke hadapanNya.”

“Udah malem, nggak usah ngawur deh.” Kataku saat ini sambil mencubit pelan lengan dan perutmu, Tahukah kamu jika saat itu aku ketakutan setengah mati?

Sungguh, berpisah denganmu adalah mimpi terburukku. Selama 25 tahun aku selalu melihatmu di kala ku bangun maupun bersiap untuk tidur. Dimulai dengan mengecup pelan keningku, sampai merengkuhku ke dalam pelukanmu. Kamu ,hanya kamu. Begitu terulang setiap harinya.

***

“Ikhlaskan Nin, jangan bikin Reno berat melepasmu.”

Entah sudah berapa lama aku hanya memandang kosong ke tempatmu berbaring dengan nyamannya. Wajahmu yang tampan masih mengguratkan senyum manismu disana, bahkan garis-garis ketampanan dan sisa-sisa kegagahanmu tidak memudar seiring dengan tubuhmu yang makin mengurus dan kulitmu yang makin memucat.  Aku sayang kamu, hanya itu yang bisa ku ucapkan berkali-kali melalui telinga kanan dan kirimu.
Sudah 40 hari engkau terbaring koma tak berdaya di ruangan serba putih yang dipenuhi dengan bau khas obat-obatan, bau yang paling aku benci. Tapi demi kamu, aku mencoba untuk kuat dan menepis rasa takut dan benciku.

“Dicoba pelan-pelan ya, Adit butuh kamu Karenina.”

Bahagiamu, bahagiaku. Mungkin hanya inilah yang bisa aku lakukan untukmu, membuatmu bahagia dengan melepasmu. Andai saja kau bukan Aditku, mungkin aku tak kan pernah rela melepasmu. Tapi kamu Aditku, orang yang paling mengerti aku. Selembar surat yang dibungkus dengan amplop berwarna peach, warna kesukaanku tiba-tiba kutemukan dalam laci riasku saat aku sedang mencari bedak untuk menyamarkan rona pucat pasi pada wajahku sebelum mengantarkanmu ke tempat terakhirmu.

How sweet you are? Bahkan di detik-detik kepergianmu, kau masih saja tetap berusaha untuk membahagiakanku.

Aku tahu kamu pasti bisa melewati hari-hari tanpa aku di sisimu. Kamu kuat, kamu bisa.p Percayalah, dengan atau tanpa aku di sisimu, kamu berhak untuk selalu bahagia, dan aku akan selalu hidup dalam senyum dan hatimu. I love you, always.

Your Hubby, Adit.

Dan puisi milik Djoko Damono, ikut tertulis dengan apik di dalam surat milik Adit.

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari


Haiii kalo liat banyak typo sana-sini dan isinya agak-agak maksa ya maklumin aja lah ya. FYI, tulisan ini dibuat kurang lebih sekitar setengah jam, dan ternyata jam terbang saya belum memadai buat bisa menyelesaikan tulisan tepat waktu dalam tempo sesingkat itu. Yup! event #FF2in1 yang diadakan oleh @nulisbuku. To be honest, ini memacu adrenalin banget loh, silahkan dicoba :D

Duh, cinta! (#FF2in1)

/ / 0 Comments

 “Jadi selama ini lo bela-belain ini itu cuma buat dia? Dia yang bahkan nggak pernah menoleh buat lo? Are u kidding me?”

Tara menatap frustasi ke arahku. Semenjak sesi curhat dari hati ke hati satu jam yang lalu, dan semua yang selama ini terkunci terbuka rapat, aku tak ubahnya bak terdakwa yang sedang menjalani persidangan.

“Gue nggak masalah kalo lo lagi jatuh cinta dan pengen terlihat special di mata gebetan lo. Tapi seenggaknya nggak kaya gini Na. Lo sadar nggak sih? Renata yang ada dihadapan gue bukan Rena yang dulu gue kenal.”

Skak! Gue cuma bisa terdiam dan memandang hampa langit-langit kosan Tara. Nggak munafik dan nggak mengelak, toh sedalam apapun lo menyimpan rahasia, suatu saat pasti bakal terkuak juga. Harus gue akui, semenjak kenal Adit, senior dua tahun di atas gue, dunia gue memang berubah dan berfokus pada lelaki itu. Nggak peduli dia sadar atau nggak sama keberadaan gue, nggak peduli apakah suatu saat dia bakalan membalas rasa yang dari hari ke hari semakin dalam buat dia seorang.

Semua bermula saat ospek tiba, kegagahannya, kharismanya, dan ketampanannya seakan mengalihkan dunia gue. Waktu itu, lagunya Afgan-wajahmu mengalihkan duniaku lantas menjadi soundtrack favorit gue. Maklum, lagi dimabuk asmara.

Pelan tapi pasti gue mulai mencari-cari semua info tentangnya dan kepo jejaring sosial yang dimilikinya menjadi rutinitas gue setiap malamnya. Nggak jarang tiap kuliah pagi gue ketiduran di kelas dan sering ditegur dosen. Sampai saat itu tiba, saat-saat yang tadinya gue rasa sebagai best moment dari perjalanan cinta gue yang berujung  happily ever after.

Dari awal semua memang terasa bagaikan mimpi yang ternyata berakhir hanya sekedar mimpi belaka. Sempat dekat beberapa bulan, mulai menyesuaikan dan ketergantungan, hingga semuanya terasa memyakitkan.

The hardest moment of broken hurt is to let him go but your heart still into him.

Nyatanya selama ini yang Adit lihat bukan sosok Rena yang sebenarnya, melainkan Kirana. Kirana Naraya, mantan sekaligus cinta pertama Aditya Rezki yang telah berpulang ke pangkuanNya tiga tahun yang lalu.

“Seenggaknya lo harusnya sadar Na kalo Tuhan masih sayang sama lo. Buktinya lo dikasih tahu kan lewat caraNya tersendiri kalau selama ini lo cuma dijadiin sebagai “pengganti” yang telah pergi hanya karena fisik lo persis banget sama mantannya. God with you, you deserve better beib.”

Dan alunan nada milik Hoobastank mengalun dengan lembut dari iPod biru milik Tara, No one can change a person, but someone can change a person for a reason. Kini aku hanya bisa tertawa mengingat kebodohanku selama ini. Rela berubah demi sebuah hal yang sia-sia. Duh, cinta!


Another story of us (draft)

/ / 1 Comments


Jika aku bukan takdirmu karena kesalahanmu, maukah kau merubahnya untukku?

***

Distance mean nothing when people means everything. LDR yap LDR, 3 huruf yang paling aku benci sejak SMA. Kata orang, berpisah jarak tidak akan merubah segalanya karena zaman sudah semakin maju. Skype, twitter, facebok, YM, dan kawan-kawannya sudah tersedia untuk memperlancar komunikasi dan membuat kita tidak hanya terpaku pada email, bahkan surat yang mesti menunggu jawaban berbulan-bulan.

Katanya sih semua akan menjadi mudah. Sekarang jarak dan waktu bukan menjadi masalah. Life gettin’ easier nowadays.

Itu kata orang, bukan kataku.

***
Tahun ini tepat tahun ketiga aku di perguruan tinggi. Rasanya baru kemarin aku melaksanakan OSPEK, dikerjain senior, menjelajahi kampus, sampai bertemu dengan seseorang yang menjungkirbalikkan hatiku.

Rekha Aditya. Senior yang mencuri perhatian hampir seluruh peserta OSPEK wanita di fakultasku. Jabatannya sebagai ketua pelaksana Masa Pengenalan Fakultas sekaligus ketua Himpunan Profesi Mahasiswa (Himpro) di jurusanku menjadikannya memiliki kharisma yang mampu membuat berpuluh-puluh pasang mata rela untuk terpana sesaat mengagumi dirinya. Ketampanannya, aura pemimpinnya, serta kharisma yang terpancar dari dalam dirinya.

Ironis memang, tadinya aku tak menyangka perjalanan cintaku layaknya novel-novel remaja yang sering aku baca.

Berawal dari musuhan, perdamaian, hingga sesi menyatakan cinta.

Yayaya. Mungkin kalian akan menertawakan aku bukan? Rasanya terlalu klise dan teramat mulus. Terlalu indah, dan terlalu mudah. Namun  takdir berkata lain, kisah cintaku tidak berakhir seperti di novel-novel yang aku baca. Happy ending ternyata hanya menjadi pemanis cerita cinta kami.  

Mengingat kata ‘takdir’ seakan membuat dadaku sesak. 

Karena takdir kita bertemu, dan karena takdir pula kita berpisah.

Hello. How are you? I miss you.
***

 “Key, are you ok?’” tepukan halus Nina di bahuku mengembalikanku pada dunia nyata. Entah sejak kapan melamun menjadi kegiatan favoritku, apalagi melamunkan masa lalu.

Oh, God.

“Absolutely ok.” Kataku sembari menyunggingkan senyumku pada Nina, teman sejurusan sekaligus teman se-kosan-ku.

Nina menatapku sekilas. Tatapannya seakan menelanjangiku. Ya aku tahu, sejauh apapun aku mengelak, Nina pasti mengetahui isi hatiku. Terkadang teramat menyebalkan memang, tapi bukankah itu yang namanya sahabat?

“Udahlah nggak usah bohong sama gue. I know what you feel kok. Let it flow aja Key, toh pada waktunya semua akan terjawab kok.”

“Anyway gue cabut dulu. Baik-baik Key jangan depresi terus bunuh diri deh.”

“Yakali Nin gue masih punya Tuhan. Lo kira gue abege labil apa?”
Aku membela diri, enak saja dirinya menyamakanku dengan bocah bau kencur yang baru putus cinta. Dasar Nina!

“Jaga-jaga aja Key, siapa tau lo kelewat galau hahahaha. Kalo ada apa-apa call  maybe ya!” Dan setelah itu Ninapun menghilang di balik pintu kamarku tetpi tawanya masih menggema memenuhi ruangan ini.

Nina Karenina, sahabtku yang nasib percintaannya tidak jauh denganku. Yayaya, rasanya aku ingin tertawa saja, bagaimana ceritanya dua orang anak manusia yang saling bersahabat ternyata memiliki kisah yang sebelas dua-belas. Takdir mempertemukan kami yang sibuk menata serpihan hati dan pada akhirnya sama-sama saling membantu untuk menghibur diri.

That’s way aku selalu memanggilnya rekan nostalgia sepanjang jalan kenangan.

***

Tak seharusnya kau berpaling dariku
Disaat kuharus jauh darimu
Karena aku masih mencintaimu
Dan yakin diriku
Hanyalah untukmu

Rezeki tidak boleh disia-siakan karena akan menjadi mubazir. Tawaran pertukaran pelajar selama setahun menjadi awal mula duri dari perjalanan cinta yang aku rajut bersama Rekha. Paris, my dream, my wishes everynight. 

Bukankah kita pernah berjanji untuk saling setia meski tidak bersama?
Bukankah yang namanya kekasih akan selalu mendukung yang terbaik bagi pasangannya?
Lalu apakah janji hanya sekedar ucapan manis yang dirangkai menjadi kata-kata yang kelewat indah?


To be continued...
*****

HAH! rasanya udah lama nggak nulis dan mencoba hal yang sama lagi itu rasanya kaku-kaku. canggung dan belum nemu feelnya. I'm sorry for my beloved readers. Yayaya gue tahu gue emang PHP tingkat tinggi, tapi faktor waktu dan faktor ide membuat tunggakan cerpen belum tergarap sampai saat ini.

From my deepest heart, i'm sorry buddy.

so, hopefully all of you will enjoy it. Happy reading!

PS: ini emang baru pemanasan sih, tapi semoga bisa berjalan lagi. 

SPOILER : My boy friend, My boyfriend

/ / 0 Comments


Yang lebih nyakitin dari jatuh cinta ke sahabat dan tak berani ngomong: Kehilangan persahabatan setelah bilang – @januaragazzo

****
Lain orang lain cerita, karena di setiap kisah terdapat ending yang berbeda.

Unbelievable!  Terhitung 48 jam yang lalu gue resmi jadi tambatan hatinya seorang Ario. Siapa bilang jatuh cinta sama sahabat selalu berakhir keterpurukan kedua belah pihak? Well, tergantung kondisi dan mind set  masing-masing sih. Yang jelas gue seneng banget! Yayayaya! 
–Ify, 19, mantan ratu gagal move on

Berani memendam berani juga mengungkapkan. Setelah melalui proses yang panjang dan mencari timing  yang tepat, akhirnya she’s officialy mine!  Buat para ARIOmania se-antero UI tercinta siap-siap gigit jari aja ya liat kemesraan kita hahaha.
 –Ario, 20, baru punya pacar.

Haiii! ini dia spoiler dari  cerpen dua bagian yang entah sejak kapan ngaretnya. Well bakalan diselesaikan kok insya allah abis uts hihi.

Another short story : Jodoh pasti bertemu [LDR Ending]

/ / 0 Comments


Halooo selamat rabu malam everybodeeeeh.
oke, kali ini balik lagi sama salah satu cerita pendek yang berhasil dikerjakan malam ini.
plese don't ask me kenapa judulnya itu, dan masalah nyambuk enggak sama isinya ya depend on you sih. hehe, gak mau berbasa-basi dan cuma mau bilang kalo my boy friend, my boyfriend  lagi-lagi mesti dipending dulu. Maaf banget yah, hampura pisan deh.

Selamat membaca dan semoga suka:-)

Jejak-jejak cantik kalian sangat diperlukan untuk kemajuan saya ke depannya. Give ur opinion guys, Danke!


 ***
Our song on the radio, but it don't sound the same
(When I was your man-Bruno Mars)

It’s rainy outside and all I wanna do is sleep. Covering my body with blanket and turn on the iPod. Yeah, sometimes you wanna do is just relax, leyeh-leyeh like a boss and don’t think about something that only make you migrain. Yeah, sometimes...

Mumpung besok libur ciyn! kapan lagi? Bebas nugas, Hurray!

Shuffle-ing. Sengaja gue shuffle iPod kesayangan gue dengan tujuan supaya mengalir secara natural. Ya karena gue nggak bakalan tahu itu lagu apa yang bakal diputerin, pas musiknya main lah lagunya baru ketebak. Biar kayak hidup yang selalu penuh kejutan. Entah manis ataupun pahit. Yeah, just go ahead!

Malam semakin larut dan tinggal menunggu mata ini terpejam. Kata orang, kalau semakin malam kita nggak bisa tidur, tandanya kita sedang hidup di mimpi orang. Kata orang sih. Bener atau enggaknya ya monggo dibikin penelitian. Rena, Rena. Makin malem makin ngawur aja deh.

Shuffle ON

Ku hanya bisa memelukmu
Saat ku bermimpi
Ku hanya bisa memilikimu
Saat aku lelap dalam anganku

Bagai nikotin yang sukses meng-adiksi, yeah ketagihan, lagi dan lagi. Bagiku tidak ada yang kebetulan. Karena semua sudah rencana Tuhan bukan? Nyaris serupa tiap malam. Potongan lagu milik Aiko, Berharap yang tak mungkin, yang sukses dicover oleh Irva menjadi pengantar tidurku malam ini. Persis, seperti kisahku dan kisahnya. Yap, maybe it’s hurts, but it’s only the way.

Mungkin hanya lewat mimpi, rasa itu bisa tersampaikan.
Mungkin lewat untaian kata itulah, kehadiranku bisa kau rasakan.
Mungkin lewat barisan doa yang ku panjatkan, kisah itu bisa terulang kembali.

Yayaya, semua serba kemungkinan.

Desiran hangat itu masih ada, kala tak sengaja namamu disebut. Semburat merah itupun masih tercipta, saat siluet kebahagiaan yang muncul dari barisan memori masa lalu tersembul dengan apik melalui pigura yang masih tertata rapi di sudut kamar.

Pathetic banget nggak sih guys?

Everybody’s changing and I don’t feel the same. Yap! Bener kata Mas Keanu, segala yang berubah memang tak lagi sama. Even somebody said that fairytales full of shit, but I do believe it. Cause only with it everything feel so easy and has happy ending. Oke, Renanya kebanyakan berkhayal ini sih. Please come fast my real Ken. Treat me like Ken doll did to Barbie.


Percakapanku dengan Ify siang tadi tanpa permisi melintas ke otakku. Memflashback,  memutar kembali peristiwa yang telah terjadi di masa lalu.

***
“Please deh Ren, lo mau jadi penerus kisah-kasih gue jaman jahiliyah dulu?” Ify, Alyssa Khalivia sibuk mengaduk-aduk cream soup pesanannya. 

“Ye, ga gitu juga sih Fy. Masalahnya ini hati men. Kan lo sendiri pernah bilang ke gue, kalo hati tuh bukan kaya pintu yang bisa ditutup dan dibuka sesuka kita. Karena hati memilih dan dipilih.”  

Temen gue yang satu ini emang udah pakar banget sama yang namanya gagal move on. Diselingkuhin iya. Di LDR-in pernah. Di PHP-in? apalagi ini sih, khatam banget doi. Tapi ya syukurlah, akhirnya doi menemukan soulmate sejatinya. Yap, Ario Saputro, hers one and the only one. Sahabat jadi cintanya yang sukses bikin iri satu UI. Juga sahabat gue yang satunya, Via. Sebelas duabelas sama Ifylah, kisah cinta Via juga semulus jalan Tol bersama Kak Alvinnya. Yeah, Sometimes Life is unfair.

“Renaaaaaa. Ayam tetangga bisa pada mati kalo lo bengong terus kaya gitu. Tell me lah. Why why with your Marvinaaah.” Kan kan kebiasaan orang manggil orang seenaknya. Like a boss gitu deh.

“Marvin Fy, Marvin.”

“Yes I know, mantan terindah lo itu kan yang bikin lo masih nge-stuck sampai sekarang. Pergi sesuka hati, pulang-pulang hatinya berceceran entah kemana. Susah ya jaman sekarang janji tinggallah janji. Wouwouwoo. Khatam banget lah gue Ren. Sini, sini Madam Ify siap membantumu dahling.” That’s what’s friend are for. Hugged you with you’re down. Hold you’re hand when you happy.

***

Namanya Marvin. Lengkapnya Marvin Adiwijaya. Pacar pertama sekaligus pacar terakhir gue. Ya emang sih gebetan banyak, yang ngedeketin apa lagi, bejibun deh. Tapi yang namanya hati nggak bisa bohong kan?

Dulu banget, waktu seragam kebangsaan gue masih putih abu-abu, Cinta pertama dan terakhirnya Sherina jadi lagu favorit gue, bahkan jadi playlist pertama. Dulu, ya, dulu. Sebelum kebahagiaan itu sirna dan kegelapan itu datang. Lima tahun kurang dua hari bukan waktu yang singkat untukku untuk bisa menghapus semua kenangan yang pernah terukir. Jangankan menghapus, bahkan sekedar melupakanpun aku tak sanggup.

You treat me like a princess, then you act like nothing happen.

“Bukan Cuma elo yang punya masa lalu yang pahit, semua orang juga punya, apalagi gue. You should move on Ren.” Tepukan halus Ify di punggungku menyadarkanku dari lamunan singkatku. Kisah Marvin-Rena memang sudah berakhir, tapi semua masih terasa nyata, bahkan saat terakhir aku mengantarnya ke bandara untuk menuntut ilmu di Jerman pun masih terekam dengan jelas.

You kiss my forehead, you said everything gonna be okay, you said that the distance will not bothered us.

Yep, the distance maybe doesn’t matter. How about someone who’s closer to lover does? Tweet Teh Falla Adinda tiba-tiba membuatku ingin menertawakan diriku sendiri. Persis bak pinang dibelah dua. Orang ketiga. Ketika jarak memisahkan, ketika kepercayaan dipertaruhkan, hanya orang ketiga lah yang bisa menghancurkan.

Masih menari dengan jelas di otak-ku, kala itu 26 Maret 2010, dua hari menjelang perayaan hari jadi kami yang seharusnya sih ke-lima. Saat dengan semangatnya aku mengedit video dengan ucapan dari temanku, temannya, keluargaku dan keluarganya yang rata-rata mendoakan kami untuk langgeng di tahun-tahun berikutnya dan mendoakannya agar segera menyelesaikan studinya dan segera pulang. Rencana tinggalah rencana, dan semua hancurlah sudah. You cheat behind me when all my love is only for you. How can you do that to me? How can?

Rasa-rasanya duniaku nyaris hancur saat itu. Keluarga kedua belah pihak sudah oke, bahkan Papanya Marvin sempat bercanda saat kuminta ucapan untuk anniv yang teryata sia-sia itu. “Rena kapan married sama Marvin? Om udah kepengen menimang cucu nih.”

Mati rasa. Yap, Keep pretending buddies! Mungkin bagi sebagian orang senyum seorang Rena masih sama, masih merekah seperti dulu dengan hiasan lesung pipit di kedua pipinya. Tapi sebagian yang lain pasti bisa menangkap luka di balik senyum yang selalu mengembang itu.

“Life is like a movie, write your own ending. Keep believeng, keep pretending.”—Jim Henson.

Deretan quote sederhana dan sarat makna yang kudapatkan dari salah satu akun twitter yang ku follow seakan menguatkanku. Hidup emang keras sob, apa yang lo mau belum tentu elo dapetin.

Toh memulai hidup baru tanpa cinta yang bersemi bukan merupakan masalah yang besar. Stay strong sob! Masalah cinta ga akan ada habisnya. Kalo jodoh ya suatu saat juga bakalan ketemu. Stay cool aja sih sekarang gue. Cause love is cycle, ga ada awal dan gak ada akhir. Mungkin saat ini lingkaran kita belum sempurna. Kedua titiknya belum bertemu, belum melengkung dengan semestinya. Ketika titik awal masih berproses menuju titik akhir berarti jalan masih panjang. Kayak aku sama kamu, mungkin sekarang kamu masih sama dia. Mungkin aku bakalan balik sama kamu, ataupun malah mendapatkan yang lebih dari kamu.  

YOLO, You Only life Once. Perbanyaklah gebetan selama masih muda. Salam ngeceng sedunia!

Dan lagu terbaru dari Afgan, penyanyi kesayanganku, mengantarkanku untuk segera menutup mata. Memasuki alam mimpi dan meninggalkan sejenak dunia yang penuh dengan kepalsuan.

Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu

Yap yang namanya jodoh pasti bertemu kok.

***
 

Yay! selesai :D yag namanya cerpen ya pasti pendek, oke seperti biasa, cerpen ini dibuat malam ini dan selesai pula malam ini. dibuat tanpa outline dan dibiarkan mengalir apa adanya. Kurang lebihnya mohon dimaafkan. kritik dan saran diterima dengan senang hati. Thankyou for reading:)

PS ; ini kelanjutan dari kisah LDRnya Marvin-rena buat yang pernah baca. Masalah nanti bakalan balikan apa engga ya gimana jodohnya mereka aja ya :p

My boy friend, my boyfriend. (1 of 2)

/ / 3 Comments


My boy friend, my boyfriend
Karena lo gak pernah tahu apa yang bakal terjadi ke depannya. Sahabat jadi cinta? Why not?

                  
When your bestfriend turn into a lover. Pernah gak sih kepikiran kaya gitu? Sejujurnya gue galau segalau-galaunya galau. Pengen nanya sih, tapi takutnya karena nila setitik rusak susu sebelanga.  Ah cupu banget lo Fy!

“Hello Nona Khalivia, kenapa sih mondar-mandir terus kaya setrikaan? Bikin pusing aja deh.”  

Via yang lagi asik ngolesin kutek nude pink yang lagi in  banget di kampus, mendadak menatap horor gue yang dari tadi sibuk bolak balik dari ujung pintu kamar sampai pintu kamar mandi.

Malam ini jadwalnya gue sama Via buat pajamas party, di mana saat ini giliran kamar kost-an gue yang jadi tempat homestay kita. Mulai dari nonton dvd bareng, facial, maskeran, girls talk alias curhat time, bikin makanan tengah malam, sampai ngisengin orang lewat telfon atau saling bajak-bajakan di akun social media. Many things we can do when we are together. Yap, we are partner in crime!

“Biasa aja deh mata lo, biarpun lo nyoba di melotot-melototin tetep aja semenjak lo lahir ke bumi mata lo udah sipit Vi. Anyway gue nggak lupa kok sama mates rule kita, keep calming baby.” kataku sambil menenangkan Via. Huft kalo ngamuk angkat tangan deh. Serem abis doi.

“Sialan lo, nggak usah bawa-bawa mata gue deh Fy. Buru jelasin elo kenapa sih jadi kaya gitu?”

Oke, ini sedikit konyol sih, jadi ceritanya waktu kita kelas dua SMA kita sama-sama bikin aturan-aturan yang bakalan membuat persahabatan kita lebi cetar membahana. We called it  mates rule.

Salah satu mates rule yang kita susun bersama, No.1 ayat 3 yang menyangkut bidang perdandanan berbunyi, “Dilarang memecahkan konsentrasi sahabatnya yang sedang berjuang demi mendapatkan kuku cantik yang maksimal alias lagi kutekan.”

Weird? For sure.

***

“Aduh Vi gue lagi bingung nih, tapi asli gue penasaran. Ah salah banget deh gue online twitter jam segini. Help me please!”

“Tell me step by step deh. Lo fikir gue bisa baca pikiran lo apa?” balas Via sambil merengut. 
 
Kegalauan malam ini bermula ketika gue gak sengaja nge-scroll timeline sambil nunggu maskernya kering. Kalo Via sih gak usah ditanya lagi, doi udah asyik berskype ria bareng pedekate-an-nya, Kak Alvin Darmawan, anak FH, senior setahun di atas kita. Namanya juga masih PDKT, pepet mulu, nggak di kampus nggak di rumah. Yayaya, anak muda.

Oke, fokus ke masalah gue yang aslinya sih sepele tapi cukup jadi beban pikiran malam ini. Temanya sih hampir sama kaya novel yang baru-baru ini jadi inceran gue pas nongkrong di gramedia, “When bestfriend changes into a lover” Boy friend becomes boyfriend, Have you imagine?

Dulu gue menentang banget yang namanya persahabatan di-campur-adukkan dengan cinta. Yang namanya sahabat ya sahabat, cinta ya cinta. Masing-masing berada di jalur yang terpisah. Tapi entah kenapa gara-gara tema #FYMchallenge malam ini gue jadi berpikir dua kali. Bener gak sih persahabatan gue pure persahabatan?

@yeahmahasiswa : Yoyoyo, tema #FYMchallenge kita malam ini cetar membahana loh gais. Penasaran gak nih? Cekidot tweet mimin selanjutnya ya!

@yeahmahasiswa : Bener gak sih sob persahabatan antara cewek-cowok itu tulus? Apa adanya atau ada apanya? Yuk mimin tungguin jawabannya di #FYMchallenge kali ini, sampai jam 9 malem ya sob. Daripada penasaran mending tanya deh ke sobat baik lo. Inget ya, KUDU lawan jenis.

@yeahmahasiswa : Bukti jangan lupa sob. Kita orang maenannya jujur, masa masalah hati kudu direkayasa juga? XOXO iyuwh de ah. Twitpic beybih jangan lupa. Okey, let’s start!

AAAAAKKKK galau mamen.

 Tanya-enggak-tanya-enggak-tanya......enggak. Tanya....... Arrh pusing! Calm down Fy, calm down jangan kayak orang stress.

****
 “Gue penasaran deh Vi, kira-kira Ario ada rasa gak yah sama gue?” Tengsin abis sih sebenernya bilang ke Via kayak gini. Well, bukan Ify banget.

“Buahahaahahha, jadi ini toh yang bikin lo galau dari tadi itu Fy? Yaelah, gue kirain ada apaan something-something emergency gitu. Eh taunya masalah hati. Plis deh kaya sama siapa aja. Just ask him and you’ll find the answer. As simple as that. Right?”  Singkat, padat, jelas. Dan sesudah itu Via balik lagi pada kesibukannya. Apalagi kalau bukan skype-an sama bang Alvin. Kelakuan, kelakuan.

Iya sih, kalo dipikir-pikir  Via ada benarnya juga. Tapi lu kate gampang apa? Masalahnya pertanyaannya sensitif broh. Cinta. Ce-i-en-te-a.

***

Ario Saputro, senior sekaligus sahabat baikku. Awal perkenalanku dengan Rio bermula ketika kami satu eskul saat SMA. Kecintaan kami pada bidang fotografi membuat kami sering menghabiskan waktu bersama. Sahabat, abang, guru, bahkan ia pun bisa bertingkah layaknya emak-emak jika sifat cerewetnya sudah keluar. Faktor S, alias sama, sama universitas, hobi, passion, membuat hubungan persahabatan kami langgeng hingga sekarang. Yah bedanya gue lebih kenal Via duluan daripada Mas Ario. Agak-agak malesin sih manggil pake embel-embel mas. Tapi memang itu permintannya. “Pokoknya lo mesti manggil gue Mas Ario. Titik.”

Selain itu ya si Rio inilah cowok yang pertama kali main ke rumah gue. As boy friend for sure, not boyfriend. Saing seringnya muncul bikin Ario ini akrab sama mama, papa, Bang Teja,  Mbok Inah sampai Mang Asep. Jadi nggak heran deh, urusan perizinan kalo kita mau kemana-mana lancar kayak jalan Tol. 

Makin lama makin kenal membuat kami lengket satu sama lain. Bahkan nggak sedikit cewek-cewek yang minta dicomblangin sama doi. Secara gituloh ketua ekskul fotografi, siapa sih yang nggak mau?

Bicara tentang cinta, dari 5 orang mantan gue waktu di SMA nggak ada yang sekuat Ario, I mean kuat ngadepin manjanya gue, moodynya gue, kesukaan gue, bahkan dia udah tau kapan aja jadwalnya si tamu bulanan dateng. Terharu gak sih? Sebagai sahabat Ario so sweetnya kebangetan!

***

Oke, modal nekat aja deh.  Ku mantapkan hatiku dan mencoba bertingkah serileks mungkin. Hari ini aku terpaksa pulang bareng sama Rio, gak terpaksa juga sih. Cuma ya biasanya kita pulang pergi bertiga, tapi ya dalam rangka memuluskan pendekatannya Via, jadilah Via pulang bareng Alvin.  Cepet-cepet jadian deh Vi daripada HTS-an mulu gak jelas. Ntar yang ada lo jadi korban PHP lagi. Amit-amit.
“Yo, Can I ask something?” kataku sambil memandang Ario yang tengah berkosentrasi di belakang kemudi. Maklum, Jakarta sih nggak ada sejarahnya jalanan kosong kecuali pas lebaran.  FYI, gue, Via dan Ario sama-sama menuntut ilmu di Universitas Indonesia. Bahasa kerennya sih yellow jacket. Tapi lucunya nggak ada satupun dari kita yang satu jurusan. Gue di Komunikasi, Rio di Teknik dan Via di Manajemen. Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. That’s us, and I love being us!

“Apa sih ya enggak buat Khalivia Renata. Tapi plis panggil gue pakek mas, Mas Ario. Kalo enggak jangan harap deh gue mau jawab pertanyaan lo. Oke cantikku?” Nah yang ini nih yang bikin males. Nadanya sok dilembut-lembutin dan alisnya yang naik turun. Genit! Bakat-bakat playboy banget deh. Tapi alhamdulillah wa syukurilah, udah lama banget doi jadi high quality jomblo. Tepatnya sejak setengah tahun yang lalu.

“Tapi lo jangan ngetawain gue ya Mas. Emm..aduh gimana ya ngomongnya.” Kataku sambil memainkan jemari tanganku. Aduh gak ngerti deh harus mulai dari mana. I'm gettin nervous!

“Udah sih let it flow aja, kita udah 5 tahun sahabatan loh. Masa lo masih malu-malu aja.” Kali ini lampu merah dan Ario menepuk bahuku pelan. Yap, kalau dilihat dari pancaran matanya sih sepertinya ia juga penasaran.

Tarik nafas, keluarkan. Now or never Fy! Bismillah.

“Lo ada rasa nggak sih Yo sama gue?” kataku pelan sambil memandang ke arah jalan. Sking jipernya rasanya aku tak mampu menatap wajahnya. Maluuu!

Ckiiit... Bunyi ban yang dipaksa menyentuh aspal secara mendadak membuat badan kami terdorong ke depan. Dashyat banget deh efek dari sebuah pertanyaan.

“Yo, nyetir yang bener dong. Gue belum mau mati men. Gue belom kawin dan belum jadi MC kondang. Please dong ah. Konsentrasi men.” Kataku sambil memijit pelilpisku pelan. Efek rem mendadak yang dilakukan Ario tadi membuat kening mulusku terpaksa mencium kaca jendela. Untung nggak benjol.

“Salah elo dodol, nanya yang aneh-aneh. Rasa apa dulu nih? Coklat, strawberry apa vanilla” Rio menoyor kepalaku pelan sebelum kembali berkonsentrasi ke jalan. Bukannya menjawab Ia malah mengalihkan perhatian. Duh susahnya, padahal pertanyaannya simple banget. Do you love me?

***

“Ah elo nggak asik banget Yo. Asli nih udah seminggu gue penasaran gara-gara challenge sialan itu. Tega banget sih lo ke gue?” pasang muka innocent, tangan bersidekap, dan bibir mengerucut. Yuhu, senjata andalan banget nih biar Ario jadi luluh sama gue.

Bukannya menjawab Ario malah senyum-senyum nggak jelas. Is he crazy?
 
tak bisa hatiku menapikkan cinta
karena cinta tersirat bukan tersurat
meski bibirku terus berkata tidak
mataku terus pancarkan sinarnya

ku dapati diri makin tersesat
saat kita bersama
desah nafas yang tak bisa rusak
persahabatan jadi cinta


(Zigas-sahabat jadi cinta)

Loh kok gue malah di setelin lagunya Zigas. Jangan-jangan.........

Dan akhirnya sepanjang perjalanan menuju rumah gue kamis isi dengan diam-diaman. Bukan kita banget Yo.

“Menurut lo dari sikap gue selama ini ke elo apa yang bisa elo simpulkan? I’m sure you know the answer. Selamat berpikir tuan putri, gue pulang dulu. Awas jangan kangen. Bye Hon.” Balas Ario sambil menutup kaca jendelanya.

Kalo masalah Ario manggil gue pake sebutan princess, honey, baby, itu sih udah cerita lama. Bahkan waktu gue baru awal-awal masuk kuliah ada senior yang ngelabrak gue gara-gara panggilan sayang itu. Usut punya usut ternyata cewek itu pacarnya Ario yang kemudian beberapa minggu kemudian menjadi mantan. Salah elo sendiri sih norak. Hari gini senioritas? Ew to you deh.

Tumben banget Rio gak mampir dulu, biasanya kan paling nggak dia suka nyolongin simpenan silver queen gue di kulkas. Ah tapi tadi gue malah disuruh mikirin jawabannya.

Arrrggghhh....

***

Udah sebulan semenjak gue menanyakan pertanyaan konyol itu gue belum ketemu Ario lagi. Kebetulan jadwal kita emang lagi padat-padatnya. Ario sibuk ikut perlombaan fotografi di Munchen yang diadakan sejak 3 minggu yang lalu. Ah bangga banget deh, bayangin dong mewakili Indonesia. Lo hebat Yo! Sedangkan gue sibuk dengan pekerjaan baru gue, jadi editor pemula di sebuah majalah remaja.

“Ify, istirahat dulu aja. Kerjaan mah gampang, slow but sure aja lah.’” 

Mbak Eva, editor senior gue emang super baik banget. Modis, cantik, udah punya suami yag ganteng dan juga tajir abis. Gilak, indah banget deh hidupnya. Sebulan masa percobaan disini nggak membuat gue jadi stress.  Justru malah super happy, karena para senior disini friendly banget dan gue bersyukur bisa belajar banyak dan menambah daftar link buat cari kerja nantinya. Huh, lucky me!

Lain lagi dengan Via. Cewek chubby satu itu sekarang lagi sibuk magang di sebuah perusahaan swasta. All of us have different job. Kangen banget nongkrong bareng dan hangout seharian deh jadinya. Me miss you guys!

Ah mention mereka deh. Dengan segera kubuka aplikasi twitter yang ada di smartphoneku.

Kangen kalian banget guys! Sombong nih pada nggak ada kabar :( @ArioS @AtaVia

TWEET!

Alunan reff lagu Jar Of heart milik Christinna Perri mngalun dengan anggun dari smartphone-ku. Dasar Ario, bukannya bales mention malah sms.

Sender : ArioRio
IFYYYY mi miccu too! Gila udah berapa abad kita terpisah hahahaha pasti lo jadi butiran debu. Ngaku deh :’) Oh iya Goodnews nih, minggu depan gue ke Bandung. Mbak Alya nikah. Pokoknya lo harus dateng ya bebs, sekalian lo balik ke ke bandung juga. Oke ch4y4n9?

RIO ALAAAAAY!

Sebulan di Jerman bukannya makin bener malah makin konslet tuh orang. Tapi kok makin hari makin frontal sih doi. Apa iya dia beneran sayang sama gue?

Dan semua masih sama, masih terkemas sebagai misteri.  

Gue harus apa Yo?


***

Akhir minggu memang waktu yang tempat untuk refreshing. Here we go, kuliner-nonton-salon. Akhirnya Via free juga dan akhirnya kesampean deh kita jalan bareng. Minus Ario tentunya. Yuhuu bye-bye forever alone.

“APAAA? Lo mau ke Bandung Fy? Gak bisa gitu dong kan lo udah janji ke gue bakalan liburan sama-sama. Hunting baju, hunting foto, cooking class. Masa batal semua sih Fy? Bete ah gue sama lo.” Via kalo lagi ngambek gini lucu banget deh. Persis anak TK yang mainannya direbut temennya. Ngerajuk abis mukanya.

“Maaf beribu maaf Piaku sayang. Jumat  depan kakakya Rio nikah. Lagian mama udah nelfonin gue terus nyuruh pulang. I’m sorry baby, I’m swear liburan kita ke Lombok minggu depan bakalan tetep jalan. Oke?” kataku sambil menepuk lembut pipi Via yang sedari tadi ditangkup oleh kedua tangannya.”

“Iya-iya gue ngerti. Dasar lo pasangan gak jelas. Paling entar lo sekalian dinikahin bareng nikahannya Mbak Alya”

“Ngaco aja deh lo Vi.” Untung deh Via gampang dijinakinnya. Hihi, You’re the best Vi! Mungkin juga sih ini akibat hawa-hawa orang jatuh cinta. FYI, akhirnya seminggu yang lalu pasangan sipit ini jadian juga. Congrats & keep romantic Alvia!

***

Akad nikah Mbak Alya berlangsung dengan khidmat. Manis dan mengharukan. Sungguh memang moment  yang teramat mendebarkan. Bahkan Tante Nena tak hentinya mengeluarkan air mata bahagia dan tak perduli dengan make up yang mulai luntur kemana-mana. 

Ketika dua hati disatukan dalam ikatan yang suci, kamu dan aku sudah menjadi kita, selalu, dan untuk selamanya.

“Mbak Alya, selamat ya, semoga ini untuk yang pertama dan yang terakhir. Cepet-cepet punya baby deh.” Balasku smabil cipika-cipiki dengan kakak tertuanya Ario, Alya Karina. Hari ini Mbak Alya cantik banget dalam balutan kebaya broken whitenya. Simpel, anggun, elegan. Begitupun dengan Mas Dion suaminya. What a perfect couple!


“Amin, makasih Fy, kamu juga cepet nyusul Mbak ya.” Balas Mbak Alya sambil mengedip-ngedipkan matanya. Like brother like sister. Emang deh Mbak Alya sama Ario 11 12 banget.

“Ye, si Mbak, Ify kan masih tingkat dua. Lagian jodoh aja belum punya, Ngarang aja deh Mbak Alya.”

“Jodoh bisa diatur Fy, yang penting kamunya, udah siap belum buat buka hati yang baru? Masalah sama siapa nantinya cingcay lah” kata Ka Alya sambil tersenyum manis padaku. Ralat, ini tersenyum apa meledeknaku yang masih gagal move on?

Sebagai orang yang lumayan dekat dengan keluarga besar Adiputro membuatku diundang secara khusus oleh Tante Nena, Mamanya Ario untuk hadir dalam acara akad nikah. Jadi terpaksa deh pagi-pagi buta diculik sama Ario dan dibawa kesini. Boro-boro sarapan, minum susu aja nggak sempet.

Sate Padang. Masih pagi sih tapi kayaknya super nyummy deh. Oke, mari kita sikat.

“Heh, gue cariin kemana-mana malah makan mulu lo kerjaannya. Diet mana diet?” Kebiasaan deh Ario, demen banget bikin orang kaget, untung tusukan satenya gak ketelan. Kemeja hitam dan jas putih. Simpel but he looks so georgeous. 

Damn, apa gue udah mulai kena syndorm sahabat jadi cinta?

“Udah jangan kebanyakan bengong deh Fy, gue tahu kok kegantengan gue melebihi si artis kesukaan lo itu, Reza Rahardian. Yuk buruan kita jalan, tadi gue udah pamit ke nyokap.”

Hah? Jalan?


"Arioo tungguin gue."

Akhirnya daripada ketinggalan akupun menyusul Rio ke mobil. Bandung pagi ini cerah berawan, jam tanganku masih menunjukkam pukul sepuluh. “Weekend, semoga gak macet deh,” rapalku dalam hati.

“Kita mau kemana sih Yo?” Nyaris setengah jam perjalanan dan Ario asik sendiri dengan keheningan yang tercipta diantara kami.

“Sabar aja deh. Hari ini kita bakalan having fun pokoknya. Just shut up and wait. Okey darling?” Kali ini Ario mengacak rambutku yang tergerai bebas. Lumayan bikin deg-degan sih sebenarnya. Bayangin deh, lagi di Tol dengan kecepatan di atas 100km/jam dan dia sempet-sempetnya mengacak pelan rambut gue. Crazy you Yo!



--------To be continued------
****

TARA! Halo selamat malam reader, oke kali ini gue datang lagi dengn sebuah cerpen bertemakan sahabat jadi cinta. Ada nggak sih dari kalian yang pernah mengalami yang semacam gini?

Well, kali ini bakalan gue potong jadi 2 bagian. Dan dengan senang hati gue nyodorin sama kalian mau dibawa kemana kelanjutannya. Hihi bisa aja yah penulisnya, maklum kebiasaan gue lupa nulisin ide yang udah muncul tiba-tiba tapi belum balik lagi sampai sekarang. Yap, jujur aja sih gue masih nge-stuck endingnya mau kaya apa. So, your comment is really helpful for me. Thankyou for reading, semoga suka ya. 

Rencana aslinya sih pengen bikin adegan so sweet buat endingnya dan pastinya happy ending. Tapi sayang beribu sayang saya masih bingung bikinnya yang nggak pasaran itu kaya gimana. 
Curhat dikit, ini berasa ilang gitu feelnya.   Iya gaksih? 

Regards, ifa!:)





Powered by Blogger.