The Story of Us (1)


THE STORY OF US

Hujan, dingin, dan kenangan.

Entah kenapa pandangan gue terus terpaku pada sederet kata yang terpampang dengan tegas di layar smartphone kesayangan gue. Efek bosan dan hujan sepanjang hari bikin gue males-malesan dan memilih untuk mengscroll timeline demi menghilangkan kebosanan gue yang udah akut ini.

Sayangnya takdir lagi nggak berpihak sama gue, bukannya menemukan yang bisa bikin gue ketawa ngakak, gue malah menemukan something yang bikin gue sendu-sendu kelabu.

Bulan Januari dan musim hujan, tak serupa tapi identik. Mungkin sejak nenek moyang gue kejadiannya memang sudah seperti ini. Awal tahun dengan hujan yang terus mengguyur bahkan dengan hadiah istimewa setiap tahunnya, banjir di ibukota tercinta ini.

Kadang gue seneng tapi sekaligus sedih dengan fenomena tahunan ini. Senang karena dengan adanya banjir yang bikin macet dimana-mana ini bertambahlah alasan gue buat dateng telat maupun bolos sekolah. Tapi sedihnya dengan air yang menggenang dimana-mana ini gue nggak bebas buat hangout apalagi di daerah yang memang terkenal rawan banjir.

Dengan malas tangan gue bergerak mencari iPod yang tadi gue letakkan dengan asal di kasur. Segelas teh tarik hangat dan novel yang ada di pangkuan gue membuat sore ini terasa komplit. Komplit, sendunya. Segera setelah gue mendapatkan apa yang gue cari, guepun memejamkan mata sambil menebak lagu apa yang akan dimainkan.

Honestly, gue suka banget sama yang namanya kejutan. Makanya, tadi gue nggak milih-milih lagu mana yang mau gue dengerin, shuffeling is the best choice. Gue nggak tahu lagu apa yang sebentar lagi bakalan diputar oleh iPod kesayangan gue dan memilih untuk menikmatinya dengan khidmat. Sama kaya kehidupan, kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Right?

Oke Vivian, elo mulai songong. Tua banget sih pemikirannya.

Vivian Tarisa Widjaja. Pelamun professional, penikmat kenangan.

Well, gue kira nggak ada hal menarik yang perlu dibangga-banggakan dari seorang Vivian. Toh yang membedakan manusia di mata Tuhan adalah imannya. Bukan pencapaiannya, apalagi kesombongannya.

Intro lagu milik Marcell yang dinyanyikan ulang oleh si cantik Raisa dengan khasnya yang jazzy mulai memenuhi indra pendengaran dan gue mencoba untuk menikmatinya. Firasat.

Bukannya sentimen atau memiliki dendam pribadi, tapi nyatanya memang lagu ini mampu membuat gue terhanyut dalam lautan kenangan. Hujanpun terdengar makin deras, sederas rasa kangen gue padanya.

Damn, I miss you so much, Dri.

Sejujurnya gue bukan tipe cewek mellow slash cheesy slash galau-ers kayak cewek masa kini pada umumnya. Prinsip gue sih, galau boleh aja asal masih dalam batas sewajarnya, tetap pada porsinya. Bahkan gue nggak menangis semalaman sampai mata bengkak kayak kebanyakan cewek-cewek seumuran gue ketika mantan pacar, oh well, orang yang masih sangat gue harapkan pergi jauh ninggalin gue ke negeri kangguru nan jauh disana.

Am I normal?

For God Sake, gue nggak pernah nonton sinetron tiap malamnya, tapi nggak pernah absen buat baca novel. Ya, katakan saja perkataan gue barusan rasanya failed mengingat adegan di novel-novel jauh lebih drama dan bikin mupeng tingkat tinggi.

Kehidupan SMA gue yang selama ini berbunga-bunga dan penuh cinta tiba-tiba berubah kelabu sejak Adri pergi dari kehidupan gue. Bukan salah Adri juga sih yang lebih memilih untuk mengejar cita-citanya. Tapi bukan salah gue juga yang nggak bisa merelakan kepergiannya.

Well, merelakan kepergian orang tersayang demi kebahagiannya menurut gue cuma bakal terjadi di novel-novel aja. Emang sih awalnya temen-temen gue pada ngehibur dan bilang kalo semua bakalan indah pada waktunya. Mereka bilang penantian panjang gue bakalan berakhir manis pada saatnya.

Tapi kapan? Emangnya lo ngerasain kesedihan gue?

Lagi asik-asiknya ngelamun gue dikejutkan dengan suara toa dari lantai bawah. Siapa lagi kalau bukan adik semata wayang gue, Tania.

VIVIAAAAAN ADA TEMEN LO TUH DI LUAR, CEPET BUKAIN!

Ugh, gue memutar bola mata gue dengan jengah sambil melepas headset yang masih menempel erat di telinga gue. Kadang gue berpikir salah apa gue punya adik yang bawelnya nggak ketulungan dan hobi banget merusak suasana kayak Tania. Tania Katarina, cewek 14 tahun yang lagi labil-labilnya.


Wait, tadi Tania bilang ada temen gue di luar. Perasaan gue lagi nggak janjian sama siapa-siapa deh?

To be continued.

***

Miss me?

HALOOO! Mungkin gue emang songong banget dan seenak jidat gara-gara asal ngepost cerita baru sementara hutang cerita gue yang udah menumpuk entah udah berapa. Well, sorry guys. Gue nggak ada planning sama sekali buat bikin dan ngepost cerita ini.Tiba-tiba ajasemuanya mengalir dan TARA...This is it! Okee, semoga enjoy dan suka sama cerita baru ini.

And Then....gue mau minta doa restu biar UAS besok lancar.

Merci beaucoup. Bye!
@ifaaahsm 

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

Thankyou for visiting my blog. Let's connect & be a friend:D

Cheers,
Ifa

Back
to top