LDR- Chapter 2


CHAPTER 2 – Dia harus tahu.....

Love means tell everything that you feel to the one who loved. No secret. Truth & trust is the key for the longlasting relationship.



Author POV

            Malam sudah berganti pagi. Kini sang mentari sudah siap untuk menjalankan tugasnya merengkuh insan-insan ciptaan Tuhan dengan sentuhan hangatnya. Bayangnya menjalar melalui kisi-kisi jendela, menelusup ke dalam celah-celah kecil siap membangunkan insan-insan yang tengah terlelap, masih terlelap tepatnya.

                Udara Bogor pagi ini yang terasa seperti di Puncak turut serta melenakan gadis ini untuk tetap berbaring di singgasananya. Meringkuk di atas king size bed empuknya dilapisi bed cover kesayangannya yang bergambar princess kesukaannya. Nuansa pink yang mendominasi kamarnya, serta pernak-pernik yang menambah kesan girly memang sangat serasi dengan kepribadian pemilik kamar ini.


Rena. Nama milik gadis yang masih terlelap itu. Ia tetap setia pada posisinya. Memeluk guling kesayangannya. Semalam memang Ia tidur terlalu larut. Jadi apa boleh buat. Seusai sholat subuh ia memutuskan untuk kembali melanjutkan tidurnya. Godaan kehangatan kasur yang membuai tak kuasa ia tolak. Apalagi dengan cuaca yang mendukung makin-makin membuatnya terlena.



                Jam dinding pink berbentuk strawberry, salah satu buah favoritnya, sudah menunjukkan waktu yang sudah bisa dibilang tidak pagi lagi. Dengan jarum panjang bertengger di angka enam dan jarum pendek yang hinggap dengan manisnya di angka delapan Wow, setengah sembilan. Sungguh angka yang fantastis untuk ukuran bangun anak gadis sepertinya.



                Menurut mitos sih, anak perawan pamali banget bangun jam segini. Jauh jodoh jauh rezeki katanya. 



                “Drrrrrrt....drrrttttttt......drrrrrrrttttt....drrrttttt....” getaran ponsel yang diiringi dengan lantunan senandung merdu milik si cantik katy pery, the one that got away  berhasil membangunkannya dari mimpi indahnya. Getaran yang tak kunjung henti itu sukses membuatnya menggeliat-liat kecil dan terjaga dari tidurnya.


                “Ah siapa sih yang sms pagi-pagi gini.”  Yap lagu itu memang sengaja Rena set sebagai tanda untuk sebuah panggilan pesan singkat


                Bukan hanya sekali dua kali, tapi getaran itu berlangsung berkali-kali. 


            Drrrrtttt...drrttt.....drrrt.......But in another life I would be your girl We'd keep all our promises  Be us against the world..... 


Iya iya Rena bangun, heran deh yah masih pagi nih woy , gue semalem tidur jam 1 tauk. Gatau? Ndeso!”  Keluh Rena sembari menggapai-gapai  ponselnya yang Ia letakkan secara asal.

Dengan  mata masih setengah terpejam akhirnya Rena berhasil meraih ponselnya yang ternyata ia letakkan di samping bantalnya. Dengan segera ia membuka  pesan singkat yang masuk ke ponselnya itu.



13 missed called & Three messages received....


 “Gilaak, gue kebo apa gimana ya? Marvin miss call 13 kali, astaga” Rena pun menepuk jidatnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Eh engga deh, pantesan aja ga kedengeran kan emang sengaja gue pake-in geter doang buat telfon masuk mah. Ah, dasar rena pikun.” Rutuknya pada dirinya sendiri sembari berlanjut membaca pesan singkat dari kekasihnya itu


From : MyPrince!:)
 Good Morning Princess, How about your dream tonight?


From : MyPrince!:)
Hey, do you have sleeping beauty beib?


From : MyPrince!:)
Renaaaaaa my kebo! Please deh lo tidur boleh tapi jangan sampe kaya orang mati gitu. Ini gue udah miss call tiga belas kali lo belom bangun juga. Astaga, mimpi apa gue punya cewek kaya elo. Gamau tau jam 11 lo harus udah ada di MP. Gue mau ngomong, penting. See you soon, Honey! Muaccchhh :*



            “Astagaaaaaa...ini udah jam berapa? Setengah 11? Demi apaaa? Gue bisa telat! Rena, kemoon be fast,aaaaaaaaaaaaaaaaaa mamiiiiiiii Rena kesiangan.” 


            Dan dimulailah rutinitas ‘pagi’ gadis itu diiringi dengan tingkah lakunya yang super heboh bin menggemaskan itu. Kalo kata anak jaman sekarang sih, “rempong ih, ciiyn” hahahaha.



*****


“Sekarang atau engga sama sekali.”
-Marvin-


Marvin POV.


            Gue udah sms, misscall bahkan nyoba buat nelfon cewek gue, Rena. Tapi satupun nihil hasilnya. Gak ada hasil men. Pasti nih ya si Rena semalem begadang. Gentayangan di twitter, ym, fb, tumblr, blog sampe skype. Dan alhasil jadilah ke-bo kaya sekarang ini. Ya Tuhan, apa salah hambaaaa??????

            Daripada gue frustasi, geleng-geleng kepala mulu yang nantinya dibilang orang gila sama si bibi mending gue siap-siap deh sekarang. 



            “Oke Marvin, tunjukkan kegantengan lo.” Batin gue ke diri gue sambil mematut diri gue di kaca.


            Kaca bukan hak paten kaum hawa aja kan ya? Kaum adam juga boleh kan?


            “Oke Marvin, cukup monolog di depan kacanya. Time goes so fast! Hahaha” 


            Akhirnya setelah gue merasa penampilan gue udah oke, gue pun turun ke bawah, pamitan sama bokap nyokap dan cuuus melanglang buana ke Taken. Taman kencana, daerah pertemuan kami. Sengaja gue memilih Macaroni Panggang sebagai tempat untuk kami membicarakan hal yang, penting untukku ini, untuknya juga tentunya.



            “Okay, it’s time to showw off Marv!” gue pun menyemangati diri gue sendiri. Kalo dipikir-pikir sih udah kaya mau perang ini bawaannya. Padahal Cuma mau ngomongin sesuatu, something that’s really important for our relationship in the future.



            Drrrtt..drrrttt.......drrttt..... Since i found you my world seems so brand new....You've show me the love i never knewYour......presence is what my whole life through


One message received...
From : Renaaaaaaa’s
Oke beiby, seeyou soon take care dear, jangan ngebuttt!!!!:*



                “Rena..rena..ada-ada aja deh. Jadi gemes nih pengen nyubit pipinya” Komentar gue sambil mengulum senyum tanda seneng bercampur geli . Ini nih yang bikin gue makin jatuh cinta sama dia. Simpel tapi bermakna buat gue. Bukti kalo dia emang bener-bener perhatian dan sayang sama gue.
               
****




“is it any important thing? Tell me baby”
-Rena-


Rena POV

            Okay, i’m ready for meet you my prince.”  Alhamdulillah yah, simpel tapi cantik.

Hari ini aku berdandan seperti biasanya, tidak terlalu menor, sopan, namun masih memberikan kesan anggun. Dengan kaus sabrina berwarna baby pink, blue jeans dan crocs malindi dengan warna senada, tak lupa sling bag kesayanganku, akupun segera bersiap menuju lokasi.


Hari ini kuputuskan untuk berangkat ke MP diantar oleh Mang Ujang, supir keluargaku. Dengan kelihaiannya dalam menyetir, meliukkan mobil kesana-kemari, akhirnya tak sampai setengah jam aku sudah berada di tempat janjian kami.


“Mang Ujang, makasih udah anter Rena. Entar ga usah di jemput Mang, Rena di anter sama Marvin kok.” Kataku seraya tersenyum kepada Mang Ujang tanda terima kasihku

“Oke neng, sama-sama. Kalo gitu Mang Ujang pulang dulu ya neng.” Balas Mang Ujang seraya mengedipkan kedua matanya.

“Idiiiiih, Mang ujang apa banget deh. Kebanyakan nonton sinetron sih. Huuuuuh .” elakku sembari tersipu malu.

“Yaampun neng, si Mamang teh juga pernah muda. Jadinya tau atuh nu kaya kitu teh. Prikitiw, ceuk lagu teh nya, diriku di mabuk asmara ahahaha.” Tuhkan Mang Ujang malah makin jadi.

“Ah, udah deh Mang ujang pulang aja sana, hus hus hus. Yang ada lama-lama disini Rena bisa berubah jadi tomat.” Balasku kepada Mang Ujang seraya memasang tampang pura-pura kesal kepadanya.


“Ulah cemberut kitu atuh neng. Entar Den Marvinnya kabur. Ups, hahaha yaudah atuh nya Mang Ujang pergi dulu bisi digigit si eneng. Assalamualaikum. Setelah itu Mobil pun melaju dengan cepat dan hilang di tikungan.

“Ah mang Ujaaaaaaaaaaaang, was loh entar dirumah.” Pekikku kesal. 

Bagaimana tidak? Ibarat pertandingan sepak bola, gawangku kebobolan mamen. Skorku kini 1-0 melawan Mang Ujang.

“Calm down Ren, lo gamau dikira orang sinting kan.” Akupun segera menenangkan diriku. Iyasih gimana orang ga berfikiran negatif kalo melihat cewek yang teriak-teriak gajelas di tengah jalan.

Drrrttt...drrrrttt...drtttt..... But in another life I would be your girl We'd keep all our promises  Be us against the world..... 


Ponsel yang aku letakkan di saku jeansku bergetar.  “Pasti dari Marvin,” pikirku.

One message received...
 MyPrince!:)


 Tanpa membuka pesan singkat dari Marvin, aku segera menekan tomboll panggilan cepat milikku. Ku ketik angka 1. Nomor yang khusus aku sediakan untuk marvin, kekasihku.


“Halo, Marvin? Iya sabar yang. Aku udah di depan. In a minute dear. Oke? Bye. Seeyou soon.”

Klik. Dan sambungan pun terputus. Sengaja aku matikan sih. Save pulsa gitu deh ceritanya hehe abis aku udah di tempat parkirnya kok. Tinggal jalan bentar sampe deh. Wait me Marv!

*****
Kunci kebahagiaan suatu hubungan adalah kepercayaan. Tanpa percaya satu sama lain maka hubungan itu tidak akan bertahan lama. Apalagi jika bumbu-bumbu kecurigaan pada pasangan sudah merasuk di dalamnya.
If you love someone, try to believe him. w/ some condition and in a right way for sure:)

***


Author POV


                Alunan lagu cantik milik kahitna meramaikan suasana Makaroni Panggang di siang hari di tengah suasana yang tidak terlalu ramai namun tidak terlalu sepi ini. Menambah kesan romantis pada pasangan muda yang menghabiskan waktunya disini. Sekedar untuk makan siang ataupun hanya nongkrong-nongkrong sambil bercengkrama dengan pasangannya.


                “Lagu yang pas untuk orang yang pas.” Batin Marvin di dalam hatinya.


Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi
Tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan
Sungguh aku sayang kamu

Cantik...
Bukan kuingin mengganggumu
Tapi apa arti merindu
Selalu...
Ooo...

Walau mentari terbit di utara
Hatiku hanya untukmu...



                Seiring dengan berakhirnya lagu penuh cinta nan manis itu. Bertepatan dengan datangnya Rena ke meja Marvin. Dengan segera Rena segera menarik kursi kosong yang tersedia di depan Marvin.


                “halo dear, udah lama nunggunya? Maaf ya aku telat.” Sapa Rena sambil memasang tampang innocentnya.


                Bukannya menjawab sapaan Rena. Marvin malah memberikan jawaban lainnya. Pernyataan lebih tepatnya.


                “Lagunya cocok buat kamu. Cantik. Sama kayak kamu,” Kata Marvin seraya memberikan senyum termanisnya kepada Rena, gadis tercantik yang menempati tahta tertinggi di hatinya.

                “Oh My Gawd. Ya Tuhan, aku meltiiing aaaaaa.” Jerit Rena. Tentu saja di dalam hatinya.

                Cewek mana coba yang mampu menolak pesona Marvin. Dengan wajahnya yang memang bisa dan sangat bisa dikategorikan ganteng. Dengan lesung pipit yang menghiasi pipi putih mulusnya. Bibir tipis berwarna merah yang sangat kontras denga kulit putihnya, tentu saja tak perlu diragukan lagi bisa dengan mudahnya membuat para wanita di mabuk kepayang.


                “Ah apasih gombal nih kamunya.” Balas Rena sambil tersipu malu, tak perlu di ragukan lagi semburat kemerahan tanpa sungkan menghiasi pipinya kini.

                “Ciyeee, malu ya? Lucu banget sih kamu.” Karena tak tahan akan reaksi gadisnya. Marvin pun menjawil dagu milik gadisnya itu.

                “Marviiiin, sejak kapan marvin gue jadi genit. Jadi tukang gombal kayak gitu?” seru ku sambil pura-pura marah

                “Cailaaah, jangan marah dong cayangnya Marvin.” Marvin pun semakin menjadi-jadi. Sehabis mengedipkan kedua matanya. Ia pun segera mencubit kedua pipi gadisnya dengan gemas.

                “Beneran kok Ren, suer tekewer-kewer deh. Cuma kamu dear, maling terhebat yang sukses merebut hati aku.” 

                “Itu ngeledek apa muji? Balas Rena sambil memajukan bibirnya beberapa senti ke depan.

                “Jahat banget aku disamain sama maling.” Kekesalanya  semakin bertambah. Rena pun memutar kedua bola matanya.

                “yaudah. Kamu tuh kaya putri. Putri dari Kahyangan. Tapinya...”

                “Tapinya apa?” Rena pun tak sabar dan segera memotong perkataan Marvin

                “sini aku bisikin ke kamu.” Marvin pun segera mencondongkan badannya ke arah rena dan emmberi isyarat pada Rena untuk lebih mendekat padanya.

                “Tapinya nyasar ke bumi terus nyangkut di pohon mangga, eh kecebur di got. Buahahhahhha. “ Dan meledaklah tawa Marvin memenuhi sekeliling ruangan

                “Marviiiiiiiiiiiiiiiiiiiin, Rena pun segera memukul-mukul dad bidang milik Marvin yang memang sengaja mencondongkan badannya tadi. Sehingga jarak mereka pun berdekatan.

                “stoppp...stooop. aku udah ga sanggup ketawa nih Ren. Huahhahahha.”

                Tampaknya Marvin sangat puas menjahili kekasihnya itu. Iapun tertawa sampai sakit perut.

                “Udah jangan ngambek, mending sekarang kamu makan sama minum dulu abis itu baru kita ngomong. Oke cantik?” Marvin pun mengakhiri perseteruan tak disengajanya dengan Rena dengan mengajukan pilihan yang tepat.

                Selesai mengucapkan hal itu, marvin menumpukan kedua tangannya di atas meja dan Ia pun menggunakannya untuk menopang daguynya. Lurus. Tepat menatap di kedua belah manik mata milik Rena.

                “Marviiin. Stop look  at me like that,” protes Rena yang jengah di tatap Marvin seperti itu berlama-lama.

                “Why? Is it wrong? Udah makan yang bener. Gue cuma mau memandangi ciptaan tuhan yang indah ini kok. Apa salahnya sih mantengin kecantikan pacar sendiri. weeeek” Balas Marvin sembari menjulurkan lidahnya.

                “Kamu cantik...cantik..dari hatimu..” senandung Marvin pelan tapi terdengar jelas di telinga Rena.

                “Whaaaaaaaaaaaaaaatttts.... sejak kapan kamu suka cherrybell Marvin????? Astagaaa. “ keluh Rena sembari menepuk jidatnya.
****

 “Mamaaaaaa, Rena penasaran!!!!!”
-Rena-

Rena POV

Dag, dig, dug hatikuu..... Gak boong deh, jujur aja gue penasaran abnget nih. Kalo kata anak gaul  jaman sekarang sih KEPO. Emm.. apa ya yang kira-kira bakalan di omongin sama Marvin?               

                “Jangan jangan..... Marvin mau minta putus lagi? Ah enggaak, gamauuu. Ya Allah plis Rena gamau putus dari Marvin. Rena ga selingkuh kok, Rena sayang bangeeeeeeeeeet sama Marvin.” Racauku dalam hati
.

                Oke, daripada pikiran gue semakin ngawur, ngaco, ga jelas, ga ada juntrungannya lebih baik gue mengamalkan salah satu ilmu wajib waktu gue SD dulu. Malu bertanya sesat di jalan.” Yihaaaa semangat qaqa Renaaaa.” Semangatku pada diriku sendiri.



                “Emm, Vin, sebenernya maksud lo ngajak gue kesini mau ngomong apasih? Penting banget ya sampe harus dadakan gitu??” cecarku pada Marvin.


                Maafkan aku saudara-saudara. Beginilah gaya pacaran kami, kadangkala aku menggunakan aku-kamu tapi kadang juga gue-elo kami pilih untuk sekedar bercakap-cakap. Everything is fine. Take it easy. Bagiku dan Marvin itu hanya hal sepele kok.

Keheningan yang sempat mencekam kami beberapa saat yang hanya di temani oleh lagu lebih indah milik Adera akhirnya berhasil dipecahkan sudah.

Bukannya menjawab pertanyaanku, Marvin justru menatapku lekat-lekat. Setelah itu Ia menghembuskan nafas yang menurutku cukup, berat.

“Vin? Anwser me...” pintaku seraya menatap kedua bola matanya.

“Please. Gimana gue mau tau kalo elonya aja ga ngasih tau. Tell me baby.” Ku genggam kedua tangannya sebagai tanda untuk memberikan sedikit kekuatan padanya.

Tapi Ia tetap terdiam. 

Perlahan tangan milik Marvin menggenggam tanganku. Hangat. Meski terasa berbeda dari biasanya.

“Kamu tau kan kalo aku sayang banget sama kamu? Cinta sebenar-benarnya cinta?” tanya Marvin lirih sembari menatap lekat ke arahku.

Hey, tunggu. Marvin pakai aku kamu. Apakah ada sesuatu yang serius yang menimpa pada dirinya? God, ku mohon jangan berita buruk. Amin.

“Of course baby. I love you and you love me.” Balasku dengan penuh keyakinan

“Loe percaya kan kalo di hati gue Cuma ada elo. Kalo gue serius sama lo. Dimana elo berada, sejauh apapun jarak memisahkan kita. Absolut. Mutlak. Udah ketetapan dan  semoga akan terjaga selamanya. Cuma elo Ren. The one and the only one, ”

Marvin udah gue elo nih. Alhamdulillah yah. Thanks God, kayanya dia udah baikan nih.

Kalo bisa digambarkan . perasaanku kini layaknya suporter dashyat yang sedang berjoget lalalayeyey. Lega dan senag. Efeknya jadi pengen joget-joget deh. Krik. Kemudian hening.

“Yap, aku tau itu kok.” Balasku dengan memamerkan senyum lebarku, senyum termanisku tentunya. Singkat. Tapi dari nada bicaraku sudah tersimpan kepercayaanku pada Marvinku seorang.

“Jadi, yang mau gue omongin ke lo sekarang ini ada dua ren. Bad news sama good news.” Balasnya mantap

“bad..bad news? Mataku tebelalak lebar. Tuhan. Ada apa lagi ini? Baru saja aku lega. Tapi sekarang?

“Please, gue mohon lo dengerin dulu sampe selesai ya Ren.” Pinta Marvin padaku.

Namun tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Rasanya lidahku kelu. Padahal, maksud dan tujuan dari Marvin pun aku belum tahu apa itu.

“Ren, can I continue it?” tanya Marvin sembari meremas jemariku. Menguatkan genggaman tangannya padaku.

“Gue tau elo kuat dear.” Lanjutnya singkat.

“hem..oke, gue dengerin” akhirnya hanya itulah yang sanggup keluar dari bibirku. Tak usah kau tanyakan lagi. Lemas. Tinggal menunggu saja apa selanjutnya yang akan diungkapkan olehnya.

“jadi, sebenernya yang mau gue omongin ke elo adalah........emm...ituu...emm tentang...........................................................................................................................

CUT!

-to be continued-

YAAAK! FINALY CHAP2 POSTED. NARI HULA-HULA\M/ huahahhaha
Maaf banget looh ini sist, jeng, tetehnya, mbaknya gue potong dulu adegan mendebarkannya :p
Sengaja sih sebenernya syalallala *ditimpukpembaca*
Sebelumnya makasih banget buat semua yang bersedia membaca , me-like, apalagi kalo mau mengomentari sesuatu yang saya tuliskan ini.
Sorry banget dipostnya super duper ngaret, ehhe maaf guenya UAS. Janji deh chap selanjutnya gabakal lama. Oke baby baby?:)
Monggo dikomen, kasih tahu dong yah mana yang kurang. Biar bisa memperbaiki kedepannya. Anyway ini kaya sinetron gak sih?

Muchlove- iffahsari musyrifah:*

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

Thankyou for visiting my blog. Let's connect & be a friend:D

Cheers,
Ifa

Back
to top