-->
Menu

your blog banner

your blog banner

Hello From Pare!

/ / 0 Comments
Hello From Pare!
Hello guys! It's my second day on Pare. Let's say Yay!

guest house yang kami tempati, semacam asrama tapi cuma buat 10 orang gitu

Finally I can take short course in Pare with my friends: Ica, Ira, Gina, and Ulan for two weeks. Because what? My holiday is almost over. Hell-yeah.

Okay, I'll tell you about my programs here, there are speak up2, tic talk, and prounounce 1/2. 

My Speak up 2 class is started on 7 am. Too morning to be true but I shud took it and face it. In speak up 2 class, I presented about Dian Pelangi, because my sista (tutor) gave us challenge :

If we got a chance to reborn in second time, what I will be? 

Then, I choose her, because I love Fashion, I want be a Fashion Designer and Young entrepreneur like her.

Before class over, i also have a presentation in front of the class, we called it "Stand Up show". It happened suddenly because I have no preparation before, so I just tell my friend in class about Nina Ardianti and Ika Natassa. Both of them are my favorite author. Even though they were so busy, but they still  can dividing their time for writing their novel.

The moral reason of my speech is, "If we have a passion and then we fight for it and never gives up, we will make it comes true, sooner or later."

Unfortunately I got a bad morning today, my bycycle's tire was flat. Poor me.
mine, the yellow one.

So, wait for our story guys, cause everyday is a new day and new challenge. Wo-hoo, Bye!:)

Kediri, January 28th 2014

with love,
Ifa


Grateful

/ / 0 Comments
Grateful
"Photos can speak anything. Photos can speak louder, more than words."

Banyak yang bilang seperti itu. Nggak di quote maupun pengalaman real banyak orang. And I feel it too.


-Sekelumit best moment di 2013 saya. Alhamdullah, overall 2013 saya totally awesome. 

2013 itu...super HOKI
2013 itu...banyak pengalaman baru
2013 itu...masa-masa totalitas sibuk
2013 itu....i love you damn much!

ada salah satu quotes dari kenalan saya yang saya suka banget, tentang volunteer gitu.
Being volunteer gives us happiness that people never think about it. Volunteer is give happiness and got happiness in the same time.
2013 taught me many things. Attending and volunteering awesome events. Met and knew ah-mazing peoples. And...being hoki, YAY! di 2013 ini gue hoki banget sama Restart nya Mbak Nina Ardianti, menjadi pemenang di sebuah ajang yang penuh dengan kehoki-hokian itu rasanya seneng banget hehe, i'll publish special post about it soon!

That's all my 2013. Lot experience, many lesson. How grateful I am (:
Hello, 2014. Aku tahu kamu nggak kalah spekta kok :))

Dearest 2014, i'm ready for you! <:D 
passion-business-come to momme! <3

AKHIRNYA selesai juga semester 5, HURRAY!!!!
anyway, Happy Holiday peeps!

XOXO

The Story Of Us (2) : Nostalgia.

/ / 0 Comments

Siapa coba yang iseng banget punya ide buat bertamu ke rumah orang waktu hujan deras kayak gini. Gue ngedumel-dumel cantik setelah teriakan Tania yang super toa tadi. Heran deh, kenapa coba nggak dia aja yang bukain pintu kalo memang ada tamu. Dasar adek terlalu kekinian!

Tania memang penganut mager-nista garis keras, kalo nggak penting-penting banget dan kalo bukan urusannya, ya wassalam aja deh buat nyuruh dia.

Face, checked. Hairdo, uhm..still looks great. Dengan asal gue mengambil cardigan dusty pink untuk menutupi piyama merah maroon kesayangan gue.

Kapanpun dimanapun penampilan mesti oke kan? 

Tampil cantik itu mutlak. -Vivian, 2014.

IYA BENTAR KENAPA SIH GAK SABARAN BANGET, kata gue sewot. Pasalnya nyaris lima menit sekali si tamu yang-entah-siapa-itu nggak berhenti buat menekan bel. Niat banget sih buat bikin emosi jiwa. Oh man, gue nggak mau kena penuaan dini.

Oke, tarik nafas, dan hembuskan.

And, guess who comes , yang udah seenaknya mengacaukan leyeh-leyeh time gue?

Gue hanya bisa melengos melihat siapa yang dengan kurang kerjaannya datang ke rumah gue di sore yang mendung mencekam gini. Kalau nggak dosa dan nggak punya etika rasanya pengen gue jeblakin aja pintu jati ini biar mencium jidat mulus makhluk, aargh gue malas mengakuinya, yang  tampan nan rupawan di hadapan gue ini.

“Miss me? Udah lama nggak ketemu dan elo makin cantik aja Sya.”

Dari sekian banyak orang yang gue kenal cuma Nara yang iseng manggil gue Sya, Sya dari Tarisa katanya. Dulu, dulu banget waktu semuanya masih indah, gue fine-fine aja dengernya Tapi sekarang? Iyuwh, Ma-le-sin, malesin pake banget.  

Namanya Nara, Nareswara Mahardika. First love sekaligus musuh abadi gue. 16 tahun, kelas sebelas sama kayak gue. Bedanya waktu kelas 9 dia sempet ikut bokap nyokapnya ke Jerman karena bokapnya pindah tugas disana. Nggak tahu deh kenapa bisa balik lagi kesini. 

Nggak Nara, nggak Adri. Well, kayaknya kisah percintaan gue emang nggak jauh-jauh dari ditinggalin dan ditinggalin (lagi). Nasib banget emang.

“Gue nggak disuruh masuk nih?” Katanya lagi sambil meneliti outfit of the day gue. Siapa suruh main datang aja kesini. Lagian kalaupun tahu dia bakal datang, ogah banget deh gue dandan abis-abisan buat ketemu orang macam dia, penjahat wanita. Penebar harapan palsu.

“Basi lo! Nggak gue izinan masuk toh elo bakalan masuk juga,” balas gue keki. 

Secara gue masih kesal sama kelakuannya di masa lalu. Waktu gue masih sama Nara. Waktu gue masih seumuran Tania. Ya, masa-masa kelabilan masih sangat berjaya.

“To the point aja deh, ada maksud apaan lo dateng kesini?”

“Cailah, sensi banget sist”. Nara malah senyam-senyum gaje sambil fokus memandang ke arah gue.

“Ga asik lo, gue balik bukannya dikasih pelukan selamat datang kek, malah dijutekin abis-abisan. Sya, Sya, kalo kayak gini lo makin gemesin tahu nggak?”

“You wish!” kata gue makin kesal dengan sikapnya yang sok-iye banget.

“Dasar cewek, gengsi banget sih lo. Gue serius Sya, gue kangen banget sama elo. Tahun emang udah berganti, tapi di hati gue elo takkan terganti.” Kali ini Nara mengucapkannya dengan mata yang berbinar-binar dan kesungguhan yang terlihat jelas dari raut wajahnya.

Oh My God, rasanya abis ini gue mau pindah rumah aja. 

Oke, jadi sore gue yang indah, damai, aman dan sentosa harus berakhir kayak gini. Dengan Nara yang ada di depan gue, dan kilasan flashback yang bolak-balik di pikiran gue dengan seenaknya.

Dan tiba-tiba potongan lagu milik Raisa menjadi penghangat suasana diantara kami.

Semua yang kurasa kini, tak berubah sejak kau pergi.
Ku terjebak...di ruang nostalgia.

TANIAAA...ARRGGGGGHHH!!!!!!

Dasar bocah, giliran kepo aja semangat banget, ya, siapa lagi yang sengaja nyetel lagu keras-keras kayak gini. Bukannya merusak suasana, lagunya malah makin mendukung suasana.

Tuhan, aku harus apa?

***
Hai...i'm back!! Yap, ini dia part 2 nya, semoga suka!:D seperti yang udh gue bilang di awal kalo cerita ini mengalir apa adanya, just enjoy it gals!

Love xoxo,
@ifaaahsm


The Story of Us (1)

/ / 0 Comments

THE STORY OF US

Hujan, dingin, dan kenangan.

Entah kenapa pandangan gue terus terpaku pada sederet kata yang terpampang dengan tegas di layar smartphone kesayangan gue. Efek bosan dan hujan sepanjang hari bikin gue males-malesan dan memilih untuk mengscroll timeline demi menghilangkan kebosanan gue yang udah akut ini.

Sayangnya takdir lagi nggak berpihak sama gue, bukannya menemukan yang bisa bikin gue ketawa ngakak, gue malah menemukan something yang bikin gue sendu-sendu kelabu.

Bulan Januari dan musim hujan, tak serupa tapi identik. Mungkin sejak nenek moyang gue kejadiannya memang sudah seperti ini. Awal tahun dengan hujan yang terus mengguyur bahkan dengan hadiah istimewa setiap tahunnya, banjir di ibukota tercinta ini.

Kadang gue seneng tapi sekaligus sedih dengan fenomena tahunan ini. Senang karena dengan adanya banjir yang bikin macet dimana-mana ini bertambahlah alasan gue buat dateng telat maupun bolos sekolah. Tapi sedihnya dengan air yang menggenang dimana-mana ini gue nggak bebas buat hangout apalagi di daerah yang memang terkenal rawan banjir.

Dengan malas tangan gue bergerak mencari iPod yang tadi gue letakkan dengan asal di kasur. Segelas teh tarik hangat dan novel yang ada di pangkuan gue membuat sore ini terasa komplit. Komplit, sendunya. Segera setelah gue mendapatkan apa yang gue cari, guepun memejamkan mata sambil menebak lagu apa yang akan dimainkan.

Honestly, gue suka banget sama yang namanya kejutan. Makanya, tadi gue nggak milih-milih lagu mana yang mau gue dengerin, shuffeling is the best choice. Gue nggak tahu lagu apa yang sebentar lagi bakalan diputar oleh iPod kesayangan gue dan memilih untuk menikmatinya dengan khidmat. Sama kaya kehidupan, kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Right?

Oke Vivian, elo mulai songong. Tua banget sih pemikirannya.

Vivian Tarisa Widjaja. Pelamun professional, penikmat kenangan.

Well, gue kira nggak ada hal menarik yang perlu dibangga-banggakan dari seorang Vivian. Toh yang membedakan manusia di mata Tuhan adalah imannya. Bukan pencapaiannya, apalagi kesombongannya.

Intro lagu milik Marcell yang dinyanyikan ulang oleh si cantik Raisa dengan khasnya yang jazzy mulai memenuhi indra pendengaran dan gue mencoba untuk menikmatinya. Firasat.

Bukannya sentimen atau memiliki dendam pribadi, tapi nyatanya memang lagu ini mampu membuat gue terhanyut dalam lautan kenangan. Hujanpun terdengar makin deras, sederas rasa kangen gue padanya.

Damn, I miss you so much, Dri.

Sejujurnya gue bukan tipe cewek mellow slash cheesy slash galau-ers kayak cewek masa kini pada umumnya. Prinsip gue sih, galau boleh aja asal masih dalam batas sewajarnya, tetap pada porsinya. Bahkan gue nggak menangis semalaman sampai mata bengkak kayak kebanyakan cewek-cewek seumuran gue ketika mantan pacar, oh well, orang yang masih sangat gue harapkan pergi jauh ninggalin gue ke negeri kangguru nan jauh disana.

Am I normal?

For God Sake, gue nggak pernah nonton sinetron tiap malamnya, tapi nggak pernah absen buat baca novel. Ya, katakan saja perkataan gue barusan rasanya failed mengingat adegan di novel-novel jauh lebih drama dan bikin mupeng tingkat tinggi.

Kehidupan SMA gue yang selama ini berbunga-bunga dan penuh cinta tiba-tiba berubah kelabu sejak Adri pergi dari kehidupan gue. Bukan salah Adri juga sih yang lebih memilih untuk mengejar cita-citanya. Tapi bukan salah gue juga yang nggak bisa merelakan kepergiannya.

Well, merelakan kepergian orang tersayang demi kebahagiannya menurut gue cuma bakal terjadi di novel-novel aja. Emang sih awalnya temen-temen gue pada ngehibur dan bilang kalo semua bakalan indah pada waktunya. Mereka bilang penantian panjang gue bakalan berakhir manis pada saatnya.

Tapi kapan? Emangnya lo ngerasain kesedihan gue?

Lagi asik-asiknya ngelamun gue dikejutkan dengan suara toa dari lantai bawah. Siapa lagi kalau bukan adik semata wayang gue, Tania.

VIVIAAAAAN ADA TEMEN LO TUH DI LUAR, CEPET BUKAIN!

Ugh, gue memutar bola mata gue dengan jengah sambil melepas headset yang masih menempel erat di telinga gue. Kadang gue berpikir salah apa gue punya adik yang bawelnya nggak ketulungan dan hobi banget merusak suasana kayak Tania. Tania Katarina, cewek 14 tahun yang lagi labil-labilnya.


Wait, tadi Tania bilang ada temen gue di luar. Perasaan gue lagi nggak janjian sama siapa-siapa deh?

To be continued.

***

Miss me?

HALOOO! Mungkin gue emang songong banget dan seenak jidat gara-gara asal ngepost cerita baru sementara hutang cerita gue yang udah menumpuk entah udah berapa. Well, sorry guys. Gue nggak ada planning sama sekali buat bikin dan ngepost cerita ini.Tiba-tiba ajasemuanya mengalir dan TARA...This is it! Okee, semoga enjoy dan suka sama cerita baru ini.

And Then....gue mau minta doa restu biar UAS besok lancar.

Merci beaucoup. Bye!
@ifaaahsm 
Powered by Blogger.